Oleh : Aji Caya Dhika
Ini
adalah kisah perjalanan seorang pemuda biasa, dimana layaknya seorang pemuda,
begitu sangat menggebu-gebu semangat jiwanya tuk mencari jati diri dan arti
hidup sebenarnya. Merupakan sebuah perjalanan
panjang yang di alami oleh diriku sendiri.
Inilah kisahnya....
Aku adalah seorang siswa
lulusan dari SMP Negeri 11 Pontianak. NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang kuperoleh
pada saat itu hanya berjumlah 29,80 dari 4 mata pelajaran yang di-UAN kan. Di tahun itu, jumlah nilai
demikian bisa dikategorikan sedang atau pas-pasan Kemudian, aku bersama ayahku
mendaftarkan diriku di SMA X Pontianak, salah satu sekolah favorit pada saat
itu, dan memang sudah menjadi keinginanku sejak SMP. Namun di hari terakhir
pendaftaran, ternyata Tuhan berkehendak lain.
Sambil menunjuk papan daftar peserta pendaftaran siswa baru dengan jari
telunjukku...
”Lho kok,
name aku tak ade pak?”, tanyaku kepada ayah sambil berusaha mencari-cari
namaku. Aku memanggil ayahku dengan sebutan bapak.
”Iyo toh le,
kok nama kamu nggak ada toh disini..”, sahut ayahku dengan logat meddok khas Jawa. Ayahku sangat fasih berbahasa
Jawa, karena sejak kecil beliau dibesarkan disana. Berbeda sekali denganku yang
sangat fasih menggunakan bahasa Melayu karena sejak kecil dibesarkan di kota yang
dilalui garis khatulistiwa ini, yang bermayoritaskan suku melayu.
”Ape mungkin
aku dah gugur ye Pak?”, tanyaku dengan perasaan cemas.
Tiba-tiba...
”Wah..le..
iki namamu.. AJI CAYA DHIKA.. namamu masuk daftar hitam le,urutan 250 dari 212
siswa yang diterima, nggak masuk ni!”, kata ayahku sambil menunjukkan
namaku.
”Yaahh...
Yaudala kalo ga masuk.”, kataku dengan perasaan kecewa.
”Sudahla le,
kamu bisa masuk di sekolah lain kok.. Masih banyak juga sekolah yang lebih bagus”,
kata ayahku seraya menghiburku.
”Tapi
sekolah mane pak?” tanyaku.
”Kan masih
ada SMA 7, disana juga bagus kok, bapak yakin kamu pasti masuk.”, jawab ayahku.
” Iye sih
pak, tapi aku pengen disinik pak.” ujarku dengan sangat ngotot.
” Mau gimana
lagi toh le, nama kamu sudah nggak masuk”, kata ayahku sambil mengelus-ngelus
kepalaku menggunakan telapak tangan kanannya.
”Yaudalah..
mau gimane agik..”, ucapku dengan pasrah.
Kami pun berlalu
meninggalkan sekolah itu bergegas menuju SMAN 7 Pontianak. Jujur aku sangat
kecewa dan sedih, mungkin inilah akibat kurang giat belajar dulunya sehingga
nilaiku tidak dapat bersaing dengan peserta lain. Penyesalan memang selalu
datang di akhir. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal tiada gunanya
lagi.
Aku segera melakukan
registrasi, di SMAN 7 Pontianak aku bertemu kawan-kawanku SMP seperti Irwan,
Ryan, Bayu, Dedy, Cahyo dan yang lainnya. Mereka memang berminat melanjutkan
pendidikan disini, terkecuali aku. Tapi alhamdulillah ya aku diterima disini.
Namaku berada di urutan 46 dari 212 peserta yang diterima. Aku masih bersyukur
bisa masuk di sekolah negeri, kupikir dengan bersekolah di sekolah negeri, orang
tuaku tidak terlalu terbebani oleh biayanya yang lebih terjangkau daripada
bersekolah di sekolah swasta.
Kesan pertama saat aku mengijakkan kaki disini
adalah aku sangat prihatin dengan bangunannya. Terkesan seperti bangunan tua
yang lama. Warna cat yang membalut dindingnya sudah terlihat usang. Pagar yang
mengelilinginya pun sudah tampak miring sekitar 45 derajat. Apalagi saat aku
memasuki aulanya, terlihat seperti bukan aula pada umumnya.
”Aaahh...inikah
aulanya? inikah sekolah yang akan ku tempati selama 3 tahun nanti, menyedihkan
sekali..tapi ya sudahla, jalani sajalah.”, bisik kecilku dalam hati.
Meskipun bangunannya terlihat memprihatinkan,
namun aku pernah mendengar cerita orang-orang diluar sana bahwa sekolah ini
sangat terkenal dengan ekstrakurikulernya, baik bidang olahraga, seni maupun
organisasi. Kakak kawanku pernah mengenyam pendidikan disini dan sudah menjadi
alumni, Namanya Deni Siswanto. Dia adalah anggota Paskibra SMA 7. Dia bisa
dikatakan sukses dengan profesinya sekarang sebagai polisi. Jujur, hal itu
menjadi motivasi untuk diriku. Aku berharap kelak aku bisa sukses seperti
dirinya dengan mengikuti jejaknya bersekolah di sekolah yang sama.
Lanjut kisah...
Seperti tahun-tahun
sebelumnya, setiap penerimaan siswa baru pasti akan diselenggarakan Masa
Orientasi Siswa atau yang lebih dikenal sebutan MOS. Aku dan siswa baru lainnya
pun mengikuti melalui bimbingan para panitia yang terdiri dari anggota OSIS dan
MPK di sekolah ini. Aku masuk di kelas XA.
Dan pada saat hari dimana promosi ekstrakurikuler (ekskul). Banyak sekali
ekskul yang mempromosikan diri mereka di kelas, salah satunya adalah Paskibra.
”Dek, siapa yang mau masuk ekskul Paskibra?” tanya Kak Wicha kepada
kami siswa Kelas XA. Namun belum jua ada yang mengangkat tangan.
”Nggak ada yang mau ni?”, tanyanya lagi.
”Paskibra ye kak?”, tanya ku balik.
”Iya dek, Paskibra , Pasukan Pengibar Bendera.”, katanya sambil
menghampiri mejaku.
”Tapi saya di SMP dulu ndak pernah ikut kak..”
”Gapapa dek, banyak kok seniornya dulu gak ikut Paskibra di SMP tapi di
SMA nya ikut, sayang loh kalo nggak ikut, postur badan adek tinggi, cocok kok”
”Yauda deh
kak.. saya pikir-pikir dulu ye kak”
”Iya, kalau
adek berminat, entar diisi formulir ini.. dan diserahkan secepatnyake kakak
ya.. kalo ada yang kurang jelas, adek bise lihat di mading,disana ada profil
tentang Paskibra atau nanti bisa tanya lagi ke kakak.”, kata kak Wicha
”Iya kak..
terima kasih”, kataku.
Selain Paskibra, banyak juga ekskul lain yang melakukan
promosi. Aku juga sempat berminat pada ekskul PMR dan Pramuka. Aku pun menerima
semua formulir yang diberikan mereka.
”Wah.. jadi
bingung ni pilih ekskul yang mane, same-same bentrok waktu latihannye.”, ujarku
kepada Dicky, kawan baruku di kelas.
”Aok ni,
bingung..Cobe bise pilih semue. Yaudah kite isi jak semue formulir ni, nanti
kite kumpulkan.”, jawab Dicky. Kebetulan dia sama sepertiku, kebingungan
memilih ekskul antara PMR, Pramuka, dan Paskibra.
”Kite liat mading jak yok, siape tau kite bise menemukan sesuatu yang
menarik disana!”, ajakku.
”Haa... ide bagus, ayokla..”, sahut Dicky mengiyakan ajakkanku.
Lalu aku dan Dicky bergegas meninggalkan tempat
duduk, berjalan dari kelas menyusuri selasar seraya mencari dimana letak mading
yang dimaksud Kak Wicha. Tentu saja masih dengan menggunakan seragam putih biru
SMP.
”Nah ji’, madingnye..!”,kata Dicky sambil menunjuk ke arah papan mading.
”Aok nah madingnye.. mantap eh
isinye, semue profil ekskul ade disini..’”, sahutku.
Di mading tersebut memang terdapat
banyak profil ekskul seperti Pramuka, PMR, Cheers, Dancer, Tari Tradisional,
Rohis, Paskibra dan lain-lain. Tapi hanya ada satu profil yang sangat menarik
perhatianku, terpampang beraneka ragam foto kegiatan disana...
”Study Tour Paskibra SMA Negeri 7 Pontianak di Singkawang...”, ucapku
yang membaca tulisan di mading sembari melihat foto kegiatan.
“Wess.. mantap kayaknye tuh, ke Singkawang!”, sahut Dicky.
”Aok ni bro, pengen ni aku ikot.. seumur-umur aku tak pernah ke
Singkawang wa..”, kataku dengan polos.
”Hah.. kau tak pernah ke Singkawang..? sepoknye gak!”, kata Dicky
meledekku.
”Tu lah.. sian kan, dahla aku ikot paskibra jakla, siape tau bise ke
Singkawang kayak di foto ni, aku pengen benar ke Singkawang pek, aku ndak
pernah ke luar selaen kota Pontianak ni boy”, kataku sambil menyengir
polos.
” Haha... Degel gak kau ni..”, sahut Dicky yang mendengar keinginan
polosku tersebut.
”Lalu.. PMR dan Pramuka?”, sambungnya lagi.
”Aku ndak ikut.. aku ikut Paskibra jak.. kau mau ikut ndak?”,
tanyaku.
”Aokla.. walau badan aku tadak tinggi, aku ikut jakla.. asikk nampaknye
ni..”, jawab Dicky.
Masa Orientasi Siswa pun telah selesai keesokan harinya.
Kami sudah resmi menjadi siswa SMA, meskipun masih harus mengenakan seragam
putih biru SMP karena seragam putih abu-abu SMA kami baru saja dipesan oleh
pihak sekolah. Hari itu juga batas terakhir pengumpulan formulir pendaftaran
ekskul Paskibra, aku dan Dicky tanpa berpikir panjang langsung mengumpulkan
formulir ke kak Wicha. Kami disuruh berkumpul di aula karena ada informasi
lebih lanjut yang akan diberian oleh senior. Disana kami diberi arahan mengenai
seleksi anggota Calon Paskibra (Capas) dan disuruh membawa perlengkapan yang
wajib dibawa pada saat seleksi. Seleksi dilaksanakan pada hari Minggu.
Sepulang sekolah, tanpa pikir panjang kutancapkan
gas motorku mengitari jalan menuju toko dimana aku bisa membeli semua
perlengkapan. Aku membeli roti, name tag, air mineral, alat tulis, dan tak lupa
handuk putih kecil ber-merk good
morning yang sangat sulit dicari, sampai-sampai aku harus memasuki sepuluh toko
baru bisa mendapatkannya.
Minggu pagi pun tiba. Usai
sholat subuh dan mandi, segera ku kenakan pakaian olahraga SMP-ku lalu pergi ke
dapur untuk sarapan pagi. Sebelum berangkat, tak lupa aku bersalaman mencium
tangan ibuku seraya berpamitan. Dengan semangat, aku berangkat menuju ke
sekolah.
Sesampainya di sekolah,
aku langsung melakukan registrasi dan mengambil nomor urut. Beruntung aku tidak
datang terlambat. Selesai registrasi, aku disuruh ke berkumpul di lapangan
bersama peserta lainnya. Disana kami akan melakukan tes tahap pertama yaitu tes
fisik. Tes fisik itu berupa lari, sit-up
dan push-up.
Pada saat aku melakukan push-up...
” Ape push up kayak gitu tu..!!, kayak buaya’ kawen jak!”, teriak
salah satu senior.
” HAHAHA... Aok, kayak buaya’ kawen, betolkan lah dek posisi badanmu itu.”,
sahut temannya.
Wajar saja, aku sangat
jarang sekali push-up sehingga harus
bersusah payah membenarkan posisi badanku.
Seleksi tahap pertama
telah selesai, selanjutnya adalah tes tahap kedua yaitu tes PBB (Peraturan
Baris-Berbaris). Masih berada di lapangan...
”Siiiiiaaaappp.... Gerak!!” , teriak seorang pria yang berada di
depanku dengan suara lantang. Pria tersebut tidak lebih tinggi dariku, namun
dia lah pelatih Paskibra disini. Namanya adalah Marsihat.
”Hadap kiriI.... Gerak!!”, teriaknya lagi.
Aku pun mengikuti aba-aba
yang diberikannya. Beberapa senior dan panitia melakukan penilaian. Aku dan
beberapa peserta lainnya masih terlihat sangat canggung. Maklum saja, aku tidak
terlalu paham dengan yang namanya baris-berbaris.
Usai tes tahap kedua,
dilanjutkan tes tahap terakhir, yakni tes wawancara. Kami dipersilakan masuk
satu per satu di dalam sebuah kelas dan berhadapan langsung dengan senior yang
melakukan penilaian.
”Selamat pagi!”, ucap senior di depanku dengan tegas.
”Siap pagi!”, jawabku tak kalah tegas. Aku sudah diberitahu oleh
kawanku, Eldy di ruangan tunggu tadi bahwa kalau menjawab pertanyaan dari
senior itu harus menggunakan kata ”siap”.
” Perkenalkan diri kamu...”
”Perkenalkan, nama saya Aji Caya Dhika. Siswa kelas XA Tempat tanggal
lahir, Pontianak, 29 Mei 1994. Alamat jalan Adi Sucipto Gang 822 Famili No. 2.”
”Sudah? Itu saja?”
”Siap.. Sudah kak!”
”Kamu tahu darimana tentang Paskibra SMA 7?”
”Siap.. Dari Kakak kawan saya yang pernah
mengenyam pendidikan disini dan sudah menjadi alumni, namanya Deni Siswanto.
Dia adalah anggota paskibra SMA 7 disini.”
”Deni angkatan berapa?”
”Siap.. kalau tidak salah angkatan 14 kak.”
”Ohh ya..ya”
Selama disana senior
tersebut bertanya terus seperti seorang wartawan atau KPK. Sikap, pengetahuan, dan
kepribadian menjadi kriteria penilaian, sampai-sampai.....
”Di formulir ini, tertulis bahwa kamu bisa menyanyi, benar kamu bisa
menyanyi?”, tanya kakak itu lagi.
”Si...si..siap, bisa kak. Tapi suara saya tidak terlalu bagus kak”,
jawab ku agak gugup.
”Tidak apa-apa, saya ingin mendengarnya.. terserahla mau lagu apa.”,
kata senior itu.
”Baiklah kak”, kataku.
Aku berpikir sejenak, lagu
apa yang sebaiknya kunyanyikan. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku lagu
D’Masiv dengan judul Merindukanmu yang lagi nge-trend pada saat itu. Awalnya aku malu dan ragu, namun segera ku
tarik nafas panjang, dan aku pun mulai melantunkan lirik dengan suara ala
kadarnya...
”Saat aku
tertawa diatas semua..
Saat aku menangisi kepergianmu..
Aku ingin engkau selalu ada..
Aku ingin engkau..
aku kenang..
Selama aku...
Masih bisa
bernafas..
Masih sanggup
berjalan..
Ku kan slalu
memujamu..
Meski ku tak tahu
lagi..
Engkau ada
dimana..
Dengarkan aku.. Ku
Merindukanmu...”
Selesai aku melantunkan
lirik, senior tersebut mengangguk-nganggukkan kepalanya, entah apa maksudnya
aku pun tak mengerti. Haha.. Mungkin suaraku terdengar sumbang di telinganya,
aku merasa malu. Tapi tak apalah pikirku dalam hati.
Hari Senin, tibalah
pengumuman siapa-siapa saja yang diterima sebagai capas. Pengumuman tersebut
ditempel di mading, tertulis di sebuah kertas karton kuning. Ku lihat di sana
terdapat namaku dan Dicky. Alhamdulillah ya diterima...
Tugas pertama kami selaku
capas adalah mengibarkan sang saka merah putih pada upacara Hari Kemerdekaan RI
di sekolah. Hampir kurang lebih sebulan lamanya, setiap sore kami dilatih PBB
oleh para senior yang masih sekolah maupun yang sudah menjadi alumni. Mulai
dari posisi siap, hadap kiri, hadap kanan, hadap serong kiri, hadap serong
kanan, jalan di tempat, hormat, hingga langkah tegap maju. Dengan mengenakan
pakaian khas, kaos putih yang dibalik, training dan topi biru SMP, botol air
minum mineral yang bertuliskan nama, capas angkatan XIX, handuk putih kecil
ber-merk Good Morning serta tak lupa
name tag,.
Dan pada saat menjelang
H-4, kami diberitahu letak dan posisi dimana kami akan bertugas. Aku pun
mendapatkan tugas...
”Hmmm... Redha, Esa , Aji gabung di pasukan sembilan.” perintah Kak
Marsihat. Sebenarnya bukan pasukan sembilan sebutannya, melainkan pasukan
delapan. Kami terbiasa menyebutnya dengan pasukan sembilan karena jumlah
orangnya ada sembilan. Pasukan ini bertugas membawa dan mengibarkan bendera.
”Siap kak..”, jawab kami serentak.
”Redha jadi pengibar, Esa yang megang bendera di tengah, dan Aji jadi
penggerek..” kata Kak Marsihat. Kebetulan postur badan kami serupa tapi tak
sama.
”Saye jadi penggerek kak?” tanyaku dengan heran.
”Iye.. kamu jadi penggerek, yang narik-narik tali tu, kayak narik tali
kelayang bah. Bise kan?”, ujar kak Marsihat dengan tersenyum.
”Siap.. bisa kak.”, jawabku dengan tersenyum pula. Ku beranikan diri
untuk menerima perintah dari Kak Marsihat, apa salahnya jika aku mencoba.
”Haaa... gitu bah, masa’ cuma narik tali kayak gitu ndak bise kan”,
ujar kak Marsihat.
Dimulai lah karir ku
sebagai seorang penggerek. Selama itu pula aku, Esa, dan Kak Redha dilatih
mengibarkan, dan menaikkannya hingga ke ujung tiang serta harus tepat saat lagu
Indonesia Raya selesai dinyanyikan. Bukan tugas yang mudah berada di pasukan
sembilan, tim pengibar, dan sebagai seorang penggerek tentunya. Apalagi ini adalah pengalaman
pertama bagiku. Semua mata peserta upacara nanti pasti akan tertuju pada satu benda
yang sangat sakral, yaitu Bendera yang kami kibarkan!.
Tibalah hari yang sangat dinantikan, yaitu
Hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2008. Semua persiapan telah dilakukan
dengan sangat matang. Mulai dari atribut, bendera, kesiapan petugas hingga
kesiapan peserta upacara.
Saat MC membacakan susunan acara, ”Persiapan Pengibaran Bendera Merah
Putih”...
”Siiaaaaaaap....Gerak!, Langkah tegaaaaap....majuuuu...... jalan!”,
teriak Kak Saddam. Senior kelas XII yang menjadi komandan pasukan.
Terdengar hentakan ”Prok...prok..prok..” sepatu PDH dan
pantofel milik kami. Mengenakan PDU, sarung tangan putih di telapak tangan kiri
kanan, peci hitam serta syal merah putih
yang terikat dileher, kami ayunkan tangan dan kaki dengan langkah yang tegap
menuju tiang bendera. Tidak kalah dengan Paskibraka yang mengibarkan bendera di
istana negara.
”Jalan di tempaaat.... Gerak!”
Kami pasukan sembilan pun
langsung melakukan gerakan haluan menghadap ke arah tiang bendera. Diiringi
pasukan tujuh belas.
”Buka barisan.... Jalan!, Buka formasi.... Jalan!”
Pasukan tujuh belas pun
melangkah dan membuat formasi berbentuk huruf U menghadap ke tiang bendera juga.
”Hentiiii.... Gerak!”
Semua pasukan berhenti
jalan di tempat. Lalu aku, Esa, dan Kak Redha bertiga melangkah menuju ke depan
tiang.
”Luruskan!, Lurus!.” teriak Kak Redha.
Esa dengan sigap langsung
melakukan gerakan jalan di tempat seraya mengambil bendera dari bakinya yang
pada saat itu dibawa oleh Kak Ayu.
”Tiga langkah kedepan... Jalan!. Hadap kanan, hadap kiri...Gerak!.
Kerjakan!”
Aku pun segera membuka
tali, melihat sekali ke atas untuk memastikan bahwa tali tidak terbelit. Ku
serahkan tali pengait ke kak Redha, untuk dikaitkan pada bendera yang dipegang
oleh Esa. Setelah bendera dikait, jantungku berdebar pada saat bendera akan dibentangkan..
Apakah bendera ini akan terlipat, terbalik posisinya, merah dibawah dan putih
diatas seperti bendera Polandia?. Atau jangan-jangan talinya malah terputus?.
Bercucuran peluh membasahi wajah hitam manisku. Tak henti-hentinya kekhawatiran
itu melintas dalam benak ini. Kak Redha memberikan kode kepadaku bahwa bendera
akan segera dibentangkan. Aku pun segera mundur ke belakang seraya mengayunkan
tangan ke atas menarik tali dengan sekuat tenaga....
”Bendera.... Siap!” teriak Kak Redha.
Terdengar suara ”weeessss....” dari peserta upacara. Dan
terpampang di depan kedua bola mataku sebuah bendera yang terbentang dengan
posisi merah di atas serta putih dibawah. Sebuah bendera yang mempunyai makna.
Merah artinya berani dan putih artinya suci. Aku bersyukur ternyata
kekhawatiranku tidak menjadi kenyataaan. Namun tugas kami belum selesai...
”Kepada.... Sang saka merah putih.....Hormaaaaattttt....” teriak Ray,
kolegaku selaku pemimpin upacara.
”Hiduplah.... Indonesia Raya...”, teriak suara dirigen dengan sangat
merdu.
”Gerak..!”
Tiba-tiba sekujur bulu
romaku merinding saat mendengar seluruh manusia yang berada di lapangan
beramai-ramai hormat ke arah bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan republik
ini, Indonesia Raya. Sebuah lagu yang
syarat penuh dengan emosi dan historis para the
founding father, pejuang, serta
pahlawan itu mengiri bendera lambang negara bumi pertiwi menuju puncak
tertinggi tiang. Ku tahu semua cucuran keringat yang terus membanjiri tubuhku
tak akan bisa menggantikan cucuran darah parah pahlawan yang membanjiri tanah
air ini demi satu tujuan, yakni mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan!.
Tak ada lagi yang bisa menghalangi ayunan tanganku untuk terus menarik tali
bendera seraya mengikuti ketukan irama lagu hingga bendera sampai di ujung
tiang...
”Hiduplah... Indonesia Raya...”
”Tegaaaaaakk.... Gerak!”
Tangan kananku sudah tak
bisa lagi menarik tali, tanda bahwa bendera sudah sampai di ujung tiang tepat
pada saat lagu selesai dinyanyikan.
”Ahhh... Alhamdulillah.. Bendera pas sampai”, bisikku dalam hati.
Setelah melakukan
penghormatan kepada bendera, kami bertiga kembali ke pasukan sembilan. Kak
Saddam memberikan aba- aba tutup formasi dan barisan. Lalu membawa pasukan
menuju ke hadapan pembina upacara, melaksanakan laporan bahwa pengibaran telah
selesai dilaksanakan. Kami pun kembali menuju ke daerah persiapan. Dalam posisi
istirahat di tempat, sesekali kulirikkan kedua bola mataku ke arah ujung tiang
bendera, terlihat disana sebuah bendera dengan gagahnya berkibar berhasil
dikibarkan oleh orang-orang terpilih dalam sebuah pasukan bernama PASKIBRA!
Pengibaran sukses
dilakukan, kami sangat bersyukur dan segera menyelenggarakan acara syukuran
makan-makan di rumah Ayi, teman se-angkatanku.
Tugas kami belum selesai
ternyata, di depan kami sudah banyak menanti perlombaan LKBB dan LTUB antar
sekolah. Dan alhamdulillah, kami sering menjuarai perlombaan tersebut. Begitu
bangganya kami bisa membawa harum nama sekolah.
Terkenang selalu di benakku ketika Kak Marsihat marah pada saat melatih
kami, dengan menarik lengan jaket kanan kirinya, membalikkan topi, dan
berteriak ”Maok kemane agik...!!!!”
dan ”Haaa... coba’ gituk, kalian ni bise
bah, cuman pura-pura jak..”
Salah satu perlombaan yang sangat berkesan bagiku
adalah pada saat LTUB di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa. Tiang bendera yang
ukurannya sangat tinggi melebihi tinggi tiang sekolahku menjadikan itu sebuah
tantangan pagi setiap penggerek masing-masing sekolah, tanpa terkecuali aku.
Syukurlah aku bisa menjawab tantangan tersebut, kami berhasil menjadi yang
terdepan dalam meraih gelar juara, dan sempat membuat tangis peserta dari
sekolah lain. Tak lupa juga dalam ingatanku ketika berhasil meraih The Best
Paskibra di ajang EGP se-Kalbar.
Keakraban antara satu
anggota dengan anggota lainnya begitu erat. Setiap hari Senin dan Rabu kami
selalu ngumpul di aula saat jam
istirahat. Mendengar
wejangan-wejangan yang diberikan senior, sharing,
di seri (push-up), 1 seri sama dengan
10 kali push-up jika kami melakukan
satu kesalahan. Dan anehnya jika selesai di seri, kami selalu mengucapkan
kalimat ”Siap, terima kasih..!”. Aneh
banget kan! Di seri kok malah bilang terima kasih. Latihan rutinnya setiap hari
Minggu, pukul 6 pagi, tetap dengan pakaian yang sama seperti latihan 17-an. Yang
datang terlambat harus jalan jongkok. Kami tidak hanya diberikan materi PBB
pada saat latihan, namun juga diberikan materi seputar Paskibra.
Setelah aku dan
kawan-kawan se-angkatanku dikukuhkan. Kami mendapatkan baju serta celana training latihan berwarna putih dan
merah. Baju latihannya dari angkatan pertama sampai sekarang sama lho. Dan ada
lagu yang diciptakan seniorku mengenai baju itu. Begini liriknya...
”Ayo mama, mama jangan marah beta..
Beta cuma, cuma ikut paskibra..
Ayo mama, mama jangan marah beta..
Paskibra memang
luar biasa..
Celana merah,
bajunya putih..
Sebelah kiri,
burung garuda..
Kami ini, memang
pertama..
Yang ada di luar
pulau Jawa..”
Memang
paskibra kami merupakan paskibra pertama yang berada di luar pulau Jawa,
didirikan oleh Kak Iwan Gunawan yang pada saat itu adalah ketua OSIS juga.
Bersama rekan-rekan, beliau berhasil mengantarkan Paskibra SMA Negeri 7
Pontianak mencapai angkatan XXII sampai
sekarang ini.
Pada bulan April, aku mencoba mengikuti seleksi
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat kota. Aku, Kak Redha, Selly, Hillary,
Esa dan Nisa menjadi utusan dari sekolah yang ditunjuk oleh Kak Marsihat
berdasarkan pertimbangan senior-senior yang lain. Awalnya aku ragu, mengingat
berat badanku hanya 49 kg, dengan tinggi 170,5 cm, ukuran yang tidak ideal!
Tapi apa salahnya toh, kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika kita belum mau
mencoba. ”Jika tahun ini gagal, aku akan
mencoba lagi tahun depan”, pikirku dalam hati.
Dilakukanlah segala persiapan mulai dari fisik
hingga materi. Lari-lari mengelilingi Stadion SSA merupakan santapan makanan
tiap sore, meskipun fisikku tidaklah terlalu kuat untuk lari, tapi aku optimis
saja waktu itu. Mempelajari PBB, pengetahuan umum sampai-sampai harus belajar
menari dari seniorku untuk persiapan seleksi bidang seni nantinya.
Tibalah hari dimana seleksi dilakukan. Pertama
kali adalah seleksi administrasi, rekanku Nisa sudah gugur duluan, dikarenakan
tinggi badan yang tidak memenuhi syarat. Tinggal lah kami berlima sekarang.
Seleksi dilaksanakan selama tiga hari. Hari pertama adalah tes fisik, hari
kedua tes pengetahuan umum dan PBB, hari ketiga tes Bahasa Inggris dan seni.
Tersisa 64 peserta dari 112 peserta yang mendaftar, namaku termasuk dalam salah
satunya
Tes hari pertama berhasil kulalui, aku berada di
posisi empat dari terakhir pada tes lari. Fisikku memang tidak kuat lari.
Tes hari kedua pun berhasil dilalu juga, masih
ingat dalam ingatanku ketika salh satu dewan juri, Kak Darmawan bertanya
kepadaku, ”Siapa Bupati KubuRaya?”.
Kebetulan aku yang tinggal di Kubu Raya ini pun menjawab, ”Siap..Bapak Muda Mahendrawan SH!”. Beruntung sekali bagiku pada
saat itu, peserta lain sepertinya mendapat pertanyaan yang lebih sulit. Pertanyaan yang paling banyak menjebak para
peserta adalah ”Berapa jumlah ekor burung
garuda?”. Para peserta kebanyakan menjawab ” delapan”, padahal jawaban yang benar adalah ”satu”. Memang benar jumlah ekor burung garuda hanya satu, kecuali
kalau ditanyakan jumlah bulu ekor burung garuda, akan benar jawabannya delapan.
Hari kedua berlalu berganti hari ketiga. Hari
ketiga adalah tes bahasa Inggris dan seni. Kami diberikan pertanyaan
tertulis, ” What do you know about Flag
Hoisting Squad?” dan “ If you member
of Flag Hoisting Squad, what do you want to do?”. Flag Hoisting Squad yang dimaksud adalah Pasukan Pengibar Bendera
Pusaka (Paskibraka). Aku pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang
sangat singkat dan sederhana. Maklum, aku bukanlah siswa yang pintar berbahasa
Inggris. Terlihat semua peserta menulis jawaban dengan sangat panjang dan aku
sedikit minder. Lalu di ruangan lain, sudah siap juri yang akan melakukan
seleksi bidang seni. Kami bergantian masuk ke dalam ruangan itu. Aku yang
mendapat nomor urut 51 ini disuruh intoduce
yourself menggunakan bahasa Inggris
serta menunjukkan bakat atau alat seni apa yang bisa dimainkan. Aku menyanyikan
lagu ”Aek Kapuas”, kemudian aku bermain alat musik gitar dengan diiringi lagu
khas daerah Sambas berjudul ”Sungai Sambas Kebanjiran” yang kupelajari sehari
sebelum tes berlangsung dari kawan SMP-ku, Iwan Sinaga Ramadhan. ”Yooo..... ngape tang gaye... ciikube..cikube..”,
begitulah sepenggal lirik yang sangat membekas di hatiku. Tak lupa aku
menunjukkan tari kreasi yang sempat aku pelajari dari seniorku. Gerakan badanku
sangat kaku sekali , tapi aku percaya diri saja.
Tak sabar ku menanti pengumuman siapa-siapa yang
akan terpilih sebagai calon anggota Paskibraka ini. Tiap hari dalam setiap
sholatku berdoa, meminta kepada Allah SWT semoga saja diriku yang sangat pasrah
ini terpilih. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ku lihat kertas yang
tertempel di kaca jendela Dispora Pontianak.. ”Dag... Dig.. Dug...”, jantungku berdetak semakin kencang dan tak
karuan.
”Ade ndak
name ko disitu?”, tanya Dodi, peserta dari MAN 2.
“Tak tau la
ni wakk.. Baru gak nak dicari ni.”, jawabku.
”Haaa... Cari
jak, aku rase sih ade...”
”Semoge jak
ni wak...”
”Haaaa....
Alhamdulillah.. Ade wak name aku! Aku peringkat delapan dari enam belas peserta
laki-laki!”, seruku.
”Kau
lolos ndak?” tambahku lagi.
”Aku
lolos gak boy. Syukurla, berarti siap-siap jak kite nunggu masuk diklat ni
bulan Agustus...selamat boy!”, ujar Dodi seraya berjabat tangan memberiku
selamat.
”Aok
wak, makaseh ye!”, ujarku sembari erat menjabat tangan Dodi.
Tak henti-hentinya senyum
kebahagiaan terpancar dari wajahku saat menuju ke sekolah. Segera ku parkirkan
motor tatkala sudah sampai di parkiran. Aku menuju tangga di depan sekolah, di
tangga tersebut Kak Marsihat sudah duduk seperti tak sabar menanti kabar
dariku...
”Gimane Ji?, Lolos ndak ko?”, tanya Kak Marsihat.
”Lolos kak! Kamek lolos di kota! Peringkat delapan dari enam belas
peserta!”, jawabku.
”Kau lolos di kota jak?”
”Iye kak... Gimane lagi, kalo rejekinye cuman sampe situ..”
”Ohhh... iyelaa kalo begitu”, kata Kak Marsihat. Beliau tampakya
sedikit kecewa mendengarku terpilih
bertugas hanya di tingkat kota saja. Mungkin pikir beliau, daripada bertugas di
kota tahun ini, lebih baik aku dipersiapkan setahun lagi untuk seleksi tahun
depan menuju tingkat propinsi bahkan nasional. Mengingat aku masih duduk di
kelas X.
”Redha, Selly.. Hillary dan Esa gimane?” tanya Kak Marsihat lagi.
”Tadik sih saye ade liat name mereke. Kak
Redha dan Selly same kayak saye, di kota
jak. Hillary di propinsi kak. Tapi tak ade name Esa..”, jawabku.
”Ohh
Redha,Selly di kota juga... Hillary di propinsi ye, syukurla masih ade yang
bise masuk propinsi, semoge jak nanti bise lolos ke nasional. Esa tak lolos?”
”Ha’ ah kak... Esa tadak lolos kak...”
”Yauda.. tahun depan ikut lagi jak. Kan masih bise..”, ujar Kak
Marsihat.
Alhamdulillah aku
diberikan kesempatan oleh Allah SWT terpilih menjadi calon anggota Paskibraka
Kota Tahun 2009. Nasibku lebih beruntung dibandingkan dengan teman-temanku yang
lainnya yang kurang beruntung. Tak henti-hentinya rasa syukur terucap di
bibirku. Aku sangat tidak menyangka hal ini bisa terjadi.
Tanggal 8 Agustus 2009,
saatnya diriku dan teman-teman yang terpilih masuk asrama untuk mengikuti
diklat. Aku, Hillary, Selly dan Kak Redha harus meninggalkan bangku sekolah
untuk sementara waktu, membawa nama baik sekolah untuk sebuah tugas dan
kewajiban, yakni mengibarkan bendera pusaka. Aku, Selly dan Kak Redha bertugas
mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka di stadion PSP Keboen Sajoek.
Sedangkan Hillary bertugas mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka di kantor
markas Pak Cornelis MH, yakni kantor Gubernur.
Tiga puluh dua siswa-siswi
terpilih memasuki asrama untuk melaksanakan diklat Paskibraka Kota Tahun 2009.
Asrama kami terletak di depan Taman Alun-Alun Kapuas, bernama Wisma Tanjung Ria
I dan II. Hari pertama itu, aku mendapatkan kamar nomor 16. Disana terdapat dua orang temanku dari
MAN 2 bernama Dodi, dan M. Syarif dari SMAN 5. Kamar kami lumayan besar, terdapat
AC, televisi dan dua kasur tempat tidur. Aku yang datang paling lama di antara
kami bertiga, terpaksa harus tidur di lantai. Namun solidaritas yang tertanam
di diri kami sangat tinggi, kami sepakat akan bergiliran tidur di bawah. Satu
hal yang membuatku kesal, kami tidak diperbolehkan menonton televisi. Jadi
untuk apa ada televisi tapi tidak digunakan, mubazir kan namanya. Namun, inilah
aturan, harus ditaati.
Setelah
meletakkan barang-barang, kami semua dikumpulkan di lapangan, lalu diberikan
seperangkat perlengkapan latihan beserta atributnya seperti baju, celana training, topi jepang,
name tag, handuk dan sepatu. Pagi itu juga perlengkapan itu langsung kami
kenakan, dan segera berlari mengitari sekeliling pasar beramai-ramai. Hari
pertama fisik kami memang dikuras habis-habisan dengan berlari, jalan jongkok,
serta berbaring di atas aspal dengan disengat panasnya sinar mentari. Mental
kami seperti benar-benar diuji oleh Kak Fajar, Kak Darmawan dan Kak Ricky
selaku pelatih.
Hari - hari selanjutnya
kami melaksanakan latihan rutin. Bangun sebelum azan subuh, sholat berjamaah
bagi yang beragama islam. Para pelatih membangunkan kami dengan menggunakan
alarm lagu ”Lupa-Lupa Ingat” by Kuburan Band yang lagi nge-trend pada saat itu. Lagu yang diperbesar volume suaranya dengan
menggunakan toa itu, mengharuskan kami tanggap dan bergerak cepat. Kalau tidak
bergerak cepat, kami akan mendapatkan hukuman berupa seri ataupun jalan
jongkok. Lagu itu seperti menjadi momok
menakutkan bagi kami sehingga trauma jika mendengarnya. Setelah shalat subuh,
kami melaksanakan senam di taman alun-alun kapuas. Selesai senam, kami
dipersilakan mandi, makan pagi dan apel pagi, lalu berangkat ke stadion untuk
latihan. Dengan menggunakan atribut, sambil berjalan kaki, kadang juga sambil
berlari-lari kecil seraya menyanyikan
lagu-lagu Paskibra seperti Hai Paskibra, Tinggalkan Ayah Tinggalkan Ibu, Oto
Bemo serta lagu-lagu daerah. Hal ini menjadikan kami sebagai pusat perhatian
warga di sekitar stadion. Wah..wah..wah...
Malam harinya kami
diberikan materi seni oleh pelatih bidang seni, Kak Asmien. Beliau sangat fasih
berbahasa Inggris. Beliaulah juri yang menilai kami mengenai bidang seni dan
bahasa Inggris pada saat seleksi. Pengetahuannya mengenai seni dan lagu-lagu
daerah, terutama lagu daerah Kalimantan Barat pun sudah tak diragukan lagi. ”Saya gak ingin mendengar tahun depan, masih banyak peserta seleksi
yang menyanyikan lagu Aek Kapuas dan Cik-cik Periok. Bosan saya mendengarnya..Semua
peserta hampir semuanya menyanyikan lagu itu.. ckckck”, kata beliau. ”Jadi saya mau, setelah kalian keluar dari
diklat ini, kalian bisa memberikan materi lagu-lagu ini kepada adik-adik kalian
yang akan mengikuti seleksi tahun depan”, tambahnya lagi. Lalu Kak Asmien
mengajari kami lagu-lagu daerah seperti Cak Uncang, Dare Sibarang, Dara Muning,
dan Tanjung Puting. Kepada kami yang berminat dengan materi seni tari, beliau
juga mengajari kami tarian Saman dari Aceh. Aku lebih memilih untuk mengikuti
paduan suara dan mempelajari lagu-lagu saja dibandingkan dengan tarian.
Menurutku lagu-lagu ini kelak dapat aku ajarkan kepada juniorku di sekolah
nanti yang akan mengikuti seleksi tahun depan. Setiap usai makan malam, kami
selalu melakukan latihan dengan giat. Baik itu bagian tari, maupun paduan
suara. Hasil latihan tersebut akan kami tampilkan pada malam pengukuhan,
tanggal 15 Agustus 2009.
Dan tibalah hari dimana
kami akan dikukuhkan, segala persiapan sudah matang dilakukan. Mulai dari
atribut PDU hingga kelengkapan upacara pengukuhan. Sebelumnya kami sudah
terlebih dahulu beberapa kali melakukan gladi resik. Aku sempat khawatir ketika
orang tuaku tidak muncul-muncul hadir dalam malam upacara pengukuhan ini.
Sehari sebelumnya, kami diberikan kesempatan sekali saja menghubungi orang tua
dengan menggunakan handphone untuk memberitahukan perihal pengukuhan. Ternyata
kekhawatiranku salah, di pojokkan sana sudah berdiri ayahku dengan sorot tajam
matanya menatap wajahku yang sudah berdiri tegap di lapangan. Sedikit terbesit
rasa kecewa dalam hatiku, ketika ibu tak dapat hadir karena harus menjaga adik
di rumah. Kasihan sekali ayahku, beliau
bersama beberapa tamu undangan
lain tidak mendapatkan tempat duduk. Rela datang jauh-jauh hanya untuk
menyaksikan aku, putra satu-satunya melewati malam yang sangat bersejarah.
Pak Sutarmidji selaku
pembina upacara pun tiba ke wisma kami. Malam itu listrik padam, jadi panitia
terpaksa menggunakan mesin generator yang suaranya sangat bising sekali. Jujur
aku sama sekali sulit mendengar amanat yang diberikan oleh beliau, suara mesin
generator mengalahkan suara microphone milik Pak Sutarmidji. Ditambah lagi
posisi ku yang jauh dari posisi beliau, membuatku semakin sulit mendengar apa
yang beliau sampaikan.
Usai amanat, tibalah pembacaan ikrar dan penciuman
bendera merah putih. Inilah saat-saat yang sangat dinantikan kami semua. Malam
ini secara sah kami akan dikukuhkan menjadi seorang anggota Paskibraka.
Temanku, Ridho Darmawan memimpin pengucapan ikrar dan penciuman bendera merah
putih yang diikuti oleh seluruh anggota. Suara lantang kami mengalahkan suara
mesin generator. Jantungku berdegup semakin kencang tatkala pengucapan ikrar
itu dilakukan. Apalagi saat giliranku melakukan penciuman bendera, terasa ”sesuatu”
keluar dari bola mataku mengalir menuruni pipi kecilku. Rasa capek karena
terlalu lama berdiri, terkalahkan oleh besarnya rasa haru yang ada di dalam
benakku. ”Aku... Aku dengan segala
keterbatasanku akhirnya bisa menggapai mimpiku.”, bisik dalam hati kecilku.
”Sesuatu” yang mengalir dari bola mataku kini bercampur dengan cucuran peluh di
wajahku. Semakin deras aliran ”sesuatu” itu ketika ayahku menjabat tanganku
seraya tersenyum tipis. ”Ku tahu ini tak
terlalu bisa membuatmu bangga, namun percayalah.. ini akan menjadi batu
loncatanku ke depan, aku akan berusaha membuatmu lebih bangga, ayah...”,
janji ku dalam hati.
Upacara pengukuhan telah selesai, saatnya kami
menampilkan atraksi seni paduan suara dan tari. Dengan semangat dan senyum
bahagia, kami berhasil membuat para tamu undangan berdecak kagum terhadap
penampilan kami. Malam itu sungguh malam yang sangat menyenangkan dan tak dapat
terlupakan.
Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 00.00.
Pertanda bahwa hari telah berganti. Merupakan hari yang sangat bersejarah untuk
negeri ini karena di hari itulah, peringatan ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia
ke-64. Tentu juga merupakan hari yang sangat kami, anggota Paskibraka nantikan.
Dengan segala persiapan yang sudah matang, pukul 06.30 kami menuju ke Lapangan
Sepak Bola Keboen Sajoek mengggunakan bis sekolah. Di dalam bis kami
bernyanyi-nyanyi kecil sembari menghilangkan rasa deg-degan. Usai turun dari bis, kami menuju tribun stadion untuk
melakukan persiapan akhir seraya berdoa agar pengibaran yang kami lakukan akan
dapat berjalan lancar. Beban yang berada di pundak kami sangatlah berat,
bagaimana tidak? Ini merupakan tugas yang sangat mulia, semua orang pasti
sangat berharap pengibaran akan berjalan dengan lancar tanpa ada sedikit pun
kesalahan. Setelah berdoa, perlahan tapi pasti kami menuruni tangga tribun
menuju lapangan. Sebait
doa mengiringi setiap langkah tegap kakiku. Semua mata peserta upacara dan tamu
undangan tertuju pada kami...
“Wesss....
semue orang pade lihat kite boy!”, seru Tiara dengan suara pelannya
kepadaku.
“Aok..mantap
pek, semue orang pasti mandang aku ni! Haha..”, seruku.
“Palak
die... pede sekali kau ni”, ujar Tiara.
“Aok Aji
ni.. pede sekali.. tak ade bah yang mandang kau..”, sambung Ana.
”Ehh..
jangan salah ye... Gini-gini banyak yang nge-fans same aku”, balasku dengan
percaya diri.
”Ehh.. ribot
kitak jak. Siap-siap lah.. Ridho udah maok nyiapkan barisan tu!”, seru Imam
di depanku.
”Aoklaaa..”,
kataku.
”Siiiiiiaaaaaapppp......
Gerak!!”, teriak Ridho Darmawan, komandan pasukan kami. Aku, Tiara, dan Ana
yang semula ngoceh tak karuan kini diam seribu bahasa mendengar aba-aba dari
Ridho, pertanda bahwa upacara akan segera dimulai. Aku berada di posisi pasukan
pengiring, pasukan yang berada paling depan. Sebenarnya aku ingin menjadi
penggerek tali bendera, namun apa daya postur tubuhku sepertinya kalah
bersaing. Tapi tidak apalah, apapun dan dimanapun kita bertugas, harus
dilaksanakan dengan baik serta sungguh-sungguh, itu prinsipku.
”Langkah.....Tegapppp....
Maju.... Jalan!”, teriak Ridho lagi. Kami pun melangkah dengan sangat
gagah. Tak kalah dengan Paskibraka Nasional yang sering kusaksikan di televisi.
Langkah demi langkah membawa kami menuju tiang bendera yang tingginya 23 meter,
lebih tinggi dari tiang bendera dimanapun. Bendera yang kami kibarkan pun lebih
panjang dan lebar dari ukuran bendera merah putih pada umumnya.
Setelah membentuk formasi, tim pengibar memegang
bendera serta talinya yang kemudian siap dikibarkan. Kemudian...
”Satu...Dua...
Tiga.. Bismillah...”, aku berhitung dan berdoa di dalam hati saat bendera
akan dibentangkan.
”Bendera..
Siap!”, teriak Kak Redha setelah membentangkan bendera lambang negara
Indonesia, Merah Putih. Syukurlah bendera tersebut tidak terlipat seperti yang
pernah terjadi pada saat kami latihan.
” Kepada
Sang Merah Putih... Hormatt....”,teriak pemimpin upacara.
”Hiduplah....Indonesia Raya...”, teriak
dirigen.
”Gerakk..!!”,
sambung pemimpin upacara.
Feriyanto selaku penggerek menarik tali dengan
sigap sembari mengikuti alunan lagu kebangsaan, Indonesia Raya...
”Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku...
Disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku...
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah
airku..
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu..
Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku...
Bangsaku, rakyatku, semuanya...
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya..
Untuk Indonesia Raya..
Indonesia Raya merdeka-merdeka..
Tanahku, negeriku yang kucinta..
Indonesia Raya merdeka-merdeka..
Hiduplah Indonesia Raya..
Indonesia Raya merdeka-merdeka..
Tanahku, negeriku yang kucinta..
Indonesia Raya merdeka-merdeka..
Hiduplah Indonesia Raya..”
Merinding seluruh tubuhku mendengar alunan lagu
kebangsaan yang mengiri sang Merah Putih menuju puncak tertinggi tiang. Dan
bendera pun sampai tepat saat lagu selesai dinyanyikan. Pengibaran sukses
dilakukan! Alhamdulillah ya...
Dan alhamdulillah penurunan bendera juga sukses
dilaksanakan pada sore harinya, meskipun banyak angin yang bertiup membuat
bendera sulit untuk diraih Kak Redha yang melipat bendera.
Malam harinya, kami dijamu makan malam oleh Pak
Sutarmidji, di pendopo Wali Kota. Seluruh tim pelatih, karyawan Dispora, anggota
PPI Kalimantan Barat , dan orang tua kami turut menghadiri jamuan makan malam
tersebut. Tak lupa kami, anggota Paskibraka Kota Tahun 2009 menghibur para
hadirin disana dengan paduan suara serta tarian yang kami pelajari selama berada
di diklat.
Keesokkan harinya, kami berangkat menuju Jakarta
selama tiga hari dua malam untuk berlibur dengan menggunakan pesawat. Mungkin
bisa dibilang semacam reward atau
penghargaan yang diberikan pemerintah atas kesuksesan kami mengemban tugas yang
diberikan. Selain itu kami juga mendapatkan uang saku, lumayan lho buat menambah
isi dompet. Tapi ada satu hal yang membuat kami sangat sedih, yakni ketidak
ikutsertaan tim pelatih dalam liburan kali ini. Para pelatih kami selalu ada di
saat kami panas-panas latihan, bergurau, canda ria, sharing, makan, lari pagi, serta apel . Seperti ada sesuatu yang
hilang bagi kami, karena selama ini kami selalu bersama-sama di saat suka
maupun duka. Mereka adalah orang yang sangat berarti bagi kami.
Di Jakarta kami berlibur dan jalan-jalan ke
Ancol serta Tugu Monas. Tak lupa juga
kami berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Sungguh pengalaman yang sangat menarik dan
tak pernah terbayangkan sebelumnya!
Tiga hari dua malam
berlalu, saatnya kami kembali pulang ke kota Khatulistiwa. Tentunya kami sesama
anggota Paskibraka Kota harus berpisah, karena tugas kami sudah selesai dan
harus melanjutkan tugas utama yaitu belajar sekolah masing-masing. Perasaan
campur aduk ketika harus melepas kebersamaan yang telah terukir selama berada di
diklat.
” Ahh...sampai ketemu lagi boy..”, ucapku kepada Dodi, teman
sekamarku.
” Aok boy.. Jage diri baek-baek boy, aku pasti kangen same kau ni. Tendang-tendang, gurau-gurau, tidok dan
pelokkan same-same di kamar.. Haha..”, balas Dodi sambil menjabat tangan dan merangkul
tubuhku.
”Sip
lah.. Mane Syarif kawan kite sekamar satu agik tu?”, tanyaku.
”Woii.. Rip...! Siniklah kau..”, teriak Dodi kepada Syarif yang
sedang berjalan menghampiri kami.
” Sampai jumpa ye kawan... Aku tadak bakal lupa same kitak.. “,
Syarif merangkul tubuh aku dan Dodi.
Mataku sudah berkaca-kaca
seperti akan ada ”sesuatu” yang menetes, tapi berhasil ku tahan..
”Minta nomor hape kau Dod..”, pintaku ke Dodi.
”Nah... Catatlah... Kosong delapan...!” ucap Dodi seraya mengeja
nomor HP-nya.
”Kosong delapan..” kataku mengikuti ucapan Dodi sambil mengetik
nomor tersebut di HP-ku .
”Lima
dua...!”
”Ya...
Lima dua...”
“Satu..
Satu..!”
“Ya..
Satu- satu...”
“Jangan
berebot...! Haha..”, gurau Dodi sambil tersenyum licik.
”Haha...
Kampret jak..”, ujarku dengan perasaan agak jengkel.
Begitulah Dodi, selalu melempar lelucon kepada
diriku sehingga sering membuatku tertawa dan kadang jengkel juga. Namun hal
itulah yang membuatku sedih, aku harus berpisah dengan Dodi serta teman-teman
seperjuanganku yang lain. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu singkat
waktu yang kami lalui bersama, namun kebersamaan itu akan selalu terkenang
sampai batu nisan kan tertancap.
Usai
diklat, tugasku belum selesai. Aku harus berbagi ilmu dan pengalaman yang
kudapat selama di diklat kepada para juniorku yang berada di sekolah, walaupun
sebenarnya masih sedikit sekali ilmu yang kuperoleh mengenai PBB dan Paskibra.
Namun, kelak aku yakin mereka pasti akan bisa jauh lebih baik dari diriku.
Menurut pandangan orang, orang bilang Paskibra tuh
ekskul nya para cewek. Sibuk terus dengan kegiatan, sehingga lupa dengan
kewajiban belajar. Tapi pandangan seperti itu salah, banyak juga kok anggota
Paskibra yang bisa mengukir prestasi di akademik maupun non-akademik. Itu
tergantung niat, kemauan dan pribadi kita masing-masing.
Aku merasa senang sekali bisa bergabung dengan
Keluarga Besar Paskibra SMA Negeri 7 Pontianak. Senang, sedih , kecewa, sukar,
sulit, canda, tawa, suka dan duka telah dirasakan. Kebersamaan yang erat serta
rasa kekeluargaan yang terpatri di dalam jiwa masing-masing anggota membuatku
betah berada disini. Di paskibra aku belajar banyak hal, yang tak dapat aku
ungkapkan semua melalui tulisan ini. Kepemimpinan, kedisiplinan, sikap, kepribadian,
fisik dan mental ku di didik disini. Tak pernah terpikir dalam benakku
sebelumnya, aku yang SMP-nya dipandang sebelah mata oleh teman-temanku ini
dapat memimpin sebuah angkatan, kelas dan sebuah organisasi intra sekolah.
Meskipun aku menyadari bahwa semua itu terjadi hanya atas dasar sebuah
keberuntungan atau faktor luck
semata. Dengan sebuah mimpi kecil, diriku dapat terbawa kepada hal-hal besar
dan tak terduga sebelumnya. Berawal keinginan kecilku ingin pergi ke Kota
Singkawang, namun tidak cuma ke Singkawang, ternyata aku dapat pergi ke Jakarta
dengan tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Mungkin untuk sebagian orang itu
hal yang biasa, tapi bagiku tidak. Ini merupakan nikmat yang luar biasa. Aku
sangat mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan.
Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena atas
kehendak-Nya lah aku bisa berjalan bertahan menjalani kisah ini. Terima kasih
aku berikan kepada kedua orang tuaku, Kak Marsihat, para senior di Paskibra dan
Paskibraka, teman-teman seangkatan dan seperjuangan-ku, tim pelatih, serta
orang-orang yang sudah membantu dan memberikanku motivasi selama ini, yang tak
dapat ku sebutkan satu per satu.
Mungkin
sebuah kisah panjang perjalanan ini tak akan aku dapatkan jika aku tidak
bersekolah di SMA Negeri 7 Pontianak yang terkenal dengan sebutan Smunju ini. Aku tidak pernah menyesal
bersekolah di Smunju. Terima kasih Smunju. Aku akan terus berjuang
menggapai cita-citaku! Terima kasih Paskibra!
Ternyata seindah-indahnya rencana manusia, lebih indah rencana Allah ya...
”Kelak jika aku mempunyai keturunan nanti...
Akan ku ceritakan kepada mereka bahwa aku sangat merasa senang dan bangga pernah bersekolah di SMA Negeri 7
Pontianak..
Dan tentunya bangga menjadi seorang anggota Paskibra..
Semua berawal disini...
Satu kata delapan huruf... ......PASKIBRA ”
-THE END-