Cari Blog Ini

Kamis, 20 Oktober 2011

Sebuah Dilema


                “Biarkan aku menjadi polisi, Bu!”, teriak Dhika kepada Ibunya yang sedang duduk di sofa.

                “Jangan Nak, jadi polisi itu berat..”, kata Bu Minah seraya menasehati buah hatinya tersebut. ”Lagipula kan kamu sudah diterima kuliah di Universitas Negeri melalui jalur PMDK mu.

                “Tidak Bu, walaupun sudah diterima disana, aku pengen jadi polisi!”.

                “Ibu tidak akan pernah menyetujui! Ibu tidak ingin kamu seperti ayahmu!”, tukas Bu Minah dengan tegas.

Ayah Dhika memang seorang purnawirawan polisi bernama Sutrisno. Sedangkan Ibunya bernama Minah. Sudah kurang lebih sepuluh tahun Alm. Pak Sutrisno meninggalkan Dhika dan Ibunya pergi menghadap sang Illahi. Beliau tewas dikarenakan tertembak peluru pada saat berusaha menyelamatkan seorang wanita dari sergapan kawanan perampok. Karena tidak sedang dalam keadaan bertugas, beliau tidak membawa senjata. Namun beliau nekat untuk menolong wanita tersebut, sudah menjadi tugas dan kewajibannya sebagai anggota kepolisian melindungi masyarakat dalam situasi apapun.

Cerita itulah yang sering Dhika dengar dari Ibunya. Selain dari Ibunya, Dhika juga sering mendengar kisah-kisah hebat Ayahnya pada saat bertugas dari rekan-rekan seperjuangan Ayahnya dulu.

                “Nanti kalau sudah lulus SMA, gantikan Ayahmu jadi polisi ya nak”, kata rekan seperjuangan Alm.Pak Sutrisno bernama Pak Sarto.

                “Insya Allah ya Om. Saya juga pengen banget menjadi seperti Ayah, menggunakan seragam dengan polisi yang sangat gagah!”, balas Dhika dengan tatapan mata yang berbinar.

                “Tidak usah Om Sarto, biarkan saja Dhika jadi Insinyur seperti kakeknya, kan keren tuh!”, sahut Bu Minah memotong pembicaraan mereka.

                “Uuuhh.. Ibu!”, gerutu Dhika.



Pernah suatu hari, ketika Dhika masih berusia sepuluh tahun. Dia bersama Ibunya sedang berbelanja di Pasar Mawar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dia melihat ada sebuah toko yang menjual beraneka ragam pakaian dan mainan anak-anak, seperti robot, boneka, mobil-mobilan, bola dan pistol-pistolan.

                “Ibu, belikan aku pistol mainan itu!”, pinta Dhika kepada Ibunya sambil menunjuk ke arah pistol mainan yang terletak di dalam lemari kaca.

                Bu Minah sepertinya menuruti keinginan Dhika, mereka pun melenggang masuk ke dalam toko. Toko tersebut bernama Istana Mainan.

                “Ibu cari apa ibu.. celana kah, baju kah, sepatu kah, mainan kah?”, tanya kakak penjaga yang berdiri tepat disamping pistol mainan yang Dhika inginkan.

                “Saya mau beli mainan buat anak saya ni”, jawab Bu Minah dengan senyuman seadanya.

                “Mainan apa bu?”, tanya kakak itu lagi.

                “Bola kaki itu aja..”, jawab Bu Minah seraya menunjuk ke arah mainan bola kaki.

                “Lho kok bola kaki bu!”, sahut Dhika. “Bukan bola kaki, tapi pistol!”

                “Sudah.. bola kaki saja, bolanya bagus lho. Nanti bisa kamu pakai bermain sama temen-temen kamu di lapangan”, balas Ibu Minah.

                “Gak mau! Aku maunya pistol  itu! Pokoknya aku mau pistol-pistolan!”, rengek Dhika sambil menangis. Bercucuran air mata Dhika membasahi pipi tembemnya.

                “Ya udah kalau kamu gak mau! Ibu nggak akan mau membelikan kamu pistol-pistolan!”, tukas Bu Minah dengan rasa jengkel sembari mencubit lengan kirinya sehingga menimbulkan bekas. Bekas tersebut berwarna biru dan tak dapat hilang sampai sekarang. Dhika menangis kesakitan. Akhirnya, mereka pun keluar dari toko tanpa membeli satu barang pun.

Begitulah Bu Minah, selalu saja menghindari Dhika dari kata, alat, mainan atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Polisi. Dhika tahu betul perasaan Ibunya, Ibunya pasti merasa trauma jika harus kehilangan seseorang yang beliau cintai untuk kedua kalinya. Bu Minah takut Dhika mengikuti jejak Ayahnya menjadi seorang polisi dan ikut meninggalkan dirinya.



Lanjut kisah....

Dhika adalah seorang siswa kelas XII di salah satu sekolah negeri ternama di kotanya. Dia telah menyelesaikan Ujian Nasional dan sekarang hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Dan alhamdulillah, pada saat pengumuman dibacakan, ternyata seluruh siswa sekolahnya lulus 100%. Sudah tentu setiap siswa akan bertanya pada dirinya sendiri, “Kemanakah aku setelah lulus SMA ?”...

Ka...Kamu mau lanjut kuliah dimana ni?”, tanya Tiwi sambil menepuk pundak Dhika. Tiwi adalah teman sekelasnya.

Belum tahu ni Wi, aku aja masih bingung”, jawab Dhika.

Lho...Bukannya kamu sudah keterima di Fakultas Teknik Universitas Tanjungria melalui jalur PMDK-mu?”, ujar Tiwi. Di sekolah, Dhika tergolong siswa yang cukup pintar. Selain pintar, dia juga aktif di organisasi dan  pernah menjabat  sebagai ketua OSIS selama dua periode. Sehingga wajar-wajar saja dia bisa masuk Universitas melalui jalur PMDK.

Iya sih Wi.. Tapi itu hanya coba-coba aja kok, lagipula itu pilihan Ibuku yang pengen aku jadi insinyur. Aku nggak terlalu senang dengan pelajaran yang berhubungan dengan rumus dan hitung menghitung”, kata Dhika menjelaskan.

Ohh begitu...Tapi sayang donk kalo kamu nggak jadi kuliah disitu, sulit lho masuk dii Fakultas Teknik. Banyak orang yang pengen kuliah disitu. Jadi kamu lanjut kemana lah Ka..?

Aku pengen jadi polisi, Wi... Menggantikan Ayahku”, jawab Dhika dengan suara yang penuh wibawa.
Ohh. Jadi polisi toh..Tapi bukannya Ibu kamu melarang?

Memang..Tapi mau gimana lagi. Itu kan cita-citaku sejak kecil. Semenjak Ayahku meninggal, aku sering mendengar kisah-kisah menganggumkan beliau saat menjadi polisi. Jiwaku terpanggil untuk meneruskan perjuangannya”, ujar Dhika.

Ciee... Jadi Ompol deh.. Sukses Ya Ka..!

Makasih Wi...Ngomong-ngomong, kamu sendiri lanjut kuliah dimana?

Aku pengen lanjut kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia”, kata Tiwi.

Wesss.... Mantap. Jadi Bu Dokter donk!

Hehe.. Iya nih”, balas Tiwi.   



                Hati Dhika semakin mantap untuk meneruskan perjuangan Ayahnya. Dilengkapinya segala administrasi pendaftaran peserta untuk mengikuti seleksi. Dia lepas PMDK-nya demi meraih cita-citanya menjadi seorang polisi, meskipun dirinya tahu bahwa belum tentu dia akan lulus. Itulah Dhika, tekadnya begitu kuat. Segala risiko siap dihadapinya jika dia gagal nanti.
               
                “Kamu yakin nak dengan keputusanmu ini untuk tidak kuliah?”, tanya Bu Minah dengan lirih.

                “Iya bu..Aku siap menganggur dulu setahun, jika tidak lulus tahun ini dan akan kucoba tahun depan”, jawab Dhika.

                “Ibu tidak setuju dengan keinginan kamu nak, Ibu tidak ingin kamu meninggalkan seperti Ayahmu!”, seru Ibu. Terlihat sepasang bola mata Bu Minah mengeluarkan air mata, menuruni pipi kanan dan pipi kirinya.

                “Tenang Bu...Aku ini sudah besar, aku tahu mana yang terbaik buat aku. Biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri Bu...”, ujar Dhika berusaha meyakinkan Ibunya.



                Bu Minah  diam seribu bahasa. Tampaknya Bu Minah merasa kecewa mendengar perkataan Dhika barusan. Lalu, beliau berlalu pergi meninggalkan Dhika menuju ke dapur.Sementara Dhika tetap pada pendiriannya. Dilangkahkan kakinya menuju ke kamar untuk mengambil sepatu olahraga. Tak lupa ia kenakan celana training kesayangannya. Sambil mendengarkan musik melalui I-Pod, diayunkan kakinya untuk memulai jogging di sore itu dengan berkeliling di sekitaran gang. Demi menjaga staminanya agar tetap bugar pada saat tes nanti.

                “Olahraga kah Ka?”, tanya tetangga sebelah rumah Dhika, bernama Pak Marno.

                “Iya ni Pak..Jogging kecil-kecilan ni”, jawabku.

                Selain jogging, tak lupa Dhika menyempatkan diri untuk berlatih sit-up, push-up, pull up, renang dan shuttle run. Wawasan akademik pun coba dia kuasai. Begitulah rutinitas yang dia lakukan setiap hari hingga pada akhirnya waktu seleksi pun tiba. Segala tahapan seleksi berhasil dia ikuti dengan semangat pantang menyerah. Alhasil, dirinya pun lulus dengan peringkat yang memuaskan. Tinggal menunggu waktu keberangkatannya saja menuju ke asrama. Disana, Dhika dan rombongan akan bergabung dengan kontingen dari provinsi lain seluruh Indonesia. Tentunya mereka akan dibina dan dididik selama kurang lebih satu tahun lamanya.

                Sesaat setelah berkemas perlengkapan yang harus dibawa. Dhika meminta restu Bu Minah untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi. Rasa sedih menyelimuti perasaan Dhika di kala itu.

                “Bu... Aku minta izin pergi. Doain aku ya..”, tutur Dhika. “Aku pasti sangat merindukan Ibu..

                Bu Minah hanya terdiam tanpa kata. Sejenak suasana menjadi hening. Hanya ada Paman Rudi yang duduk di kursi ruang tamu. Tiba-tiba Paman Rudi beranjak dari kursinya.

                “Sudahla Minah...Dhika ini sudah besar, biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri. Biarkan Dhika meraih cita-citanya”, ujar Paman Rudi  seraya memegang bahu Bu Minah.

                Bu Minah masih terdiam. Pandangan matanya terlihat kosong. Raut wajahnya tampak lusuh tak beraturan, menandakan bahwa dia sangat merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Berat rasanya untuk membiarkan putra semata wayangnya pergi dalam jangka waktu yang cukup lama.
Namun tak berapa lama berselang, Bu Minah akhirnya mau membuka mulut.

                “Iya.. Ibu mengizinkan kamu Nak.. Belajarlah dengan giat disana. Ibu pasti sangat merindukanmu!

Berlinanglah air mata Bu Minah membasahi pipinya...

Iya Bu! Aku pasti juga sangat merindukan Ibu! Aku janji akan belajar dengan giat disana”, ucap Dhika seraya memeluk erat tubuh Ibunya. Dhika pun tak dapat lagi menahan kesedihan yang ia rasakan. Dhika menangis tersedu.

Sebentar lagi, akan ada seorang polisi bernama Bripda Andhika Pangestu!”, tambahnya lagi.

Amin.. Semoga saja. Ibu akan mendoakan kamu disini. Kamu hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik disana”, pesan Bu Minah.

Siap Bu! Pasti aku akan jaga diri baik-baik. Ibu tenang saja.

Cepatlah pulang, Ibu selalu meninggumu disini”, pesan Bu Minah untuk yang terakhir kalinya kepada Dhika.

                “Sudah.. Sudah.. Sudah jam berapa ini? Ayo berangkat, nanti telat lho”, kata Paman Rudi memotong pembicaraan mereka.

                “Ya sudah.. Aku berangkat dulu ya Bu. Assalamualaikum...”, ucap Dhika sambil bersalaman mencium tangan Ibunya.

                “Waalaikum salam”, jawab Bu Minah.




                Begitulah percakapan terakhir antara Dhika dan Bu Minah. Seiring berjalannya waktu, Dhika telah resmi dilantik menjadi anggota Polri dan bertugas di satuan Bareskrim selama satu tahun. Begitu senang hati Bu Minah mendengar anaknya sudah resmi dilantik. Meskipun harus rela menunggu kepulangan anaknya setahun lagi.
                Dan satu tahun itu berlalu dengan penantian panjang Bu Minah. Menunggu kepulangan anak kesayangannya kembali ke rumah. Hari kepulangannya pun tiba. Segala persiapan untuk menyambut kepulangan Dhika telah dilakukan, termasuk mengadakan acara jamuan makan-makan di rumah Bu Minah. Seluruh keluarga, rekan kerja Bu Minah dan Alm. Pak Sutrisno, serta tak lupa teman-teman Dhika pun diundang dalam acara tersebut. Acara yang diadakan terbilang cukup mewah. Maklum, Bu Minah adalah salah seorang pegawai BUMN yang gajinya lumayan besar.

                “Jam berapa Dhika sampai di rumah tante?”, tanya Tiwi yang sekarang sudah menjadi dokter.

                “Iya ni tante, sudah nggak sabaran pengen liat Dhika..Kangen ni..!”, sambung Toni, yang merupakan sahabat dekat Dhika sejak SD.

                “Hmmm.... Mungkin bentar lagi ni”, ujar Bu Minah.

                Tidak hanya Tiwi dan Toni. Seluruh hadirin undangan yang berada disana juga berharap Dhika segera datang. Tanpa terkecuali Bu Minah, yang sudah tidak sabar pastinya ingin melepas rindu dengan putra tercintanya.

                Tiba-tiba ponsel Bu Minah berdering....

                “Hallo.. Assalamualaikum”, kata Bu Minah memulai percakapan di telepon.

                “Waalaikum salam bu
                Suara tersebut terasa tidak asing lagi di ditelinga Bu Minah. Ternyata yang menelepon Bu Minah adalah Dhika.

                “Dhika! Dimana kamu? Kok belum nyampe nyampe di rumah sih. Ibu dan yang lain sudah nungguin kamu ni!

                “Wahh... Ibu nggak sabaran nih. Aku pasti pulang kok. Memangnya ramai sekali ya Bu yang nungguin aku?” tanya Dhika.

                “Iya nih... Ibu udah ngadain acara makan-makan besar  dengan seluruh keluarga. Ibu juga udah ngundang temen-temen kamu. Mereka nggak sabaran tuh pengen liat kamu

                “Lho... Kok Ibu pake acara ngadain makan-makan segala sih”, protes Dhika.

                “Gapapa donk ya.. Kan sekali-kali”, ujar Bu Minah.

                “Behhh... Oh ya, sebelumnya aku mau minta izin sama Ibu. Boleh nggak?

                “Boleh kok, apa sih yang nggak buat kamu ni..”, gombal Bu Minah.

                “Begini Bu... Aku boleh bawa temen ku nggak ke rumah?”

                “Ohh...Tentu saja boleh. Temen kamu polisi juga?

                “Iya Bu... Dia anak yatim piatu, nggak punya saudara juga. Jadi aku pengen ngajak dia main ke  rumah kita.”, ujar Dhika.

                “Ohh.. Ajak saja dia ke rumah. Gapapa kok, ramai-ramai kan jadi tambah seru!”, sahut Bu Minah.
                “Tapi.....

                “Tapi apa..?” tanya Bu Minah dengan penasaran.

                “Tapi....Temen saya ini cacat Bu. Tangan kanannya patah akibat jatuh. Wajahnya terlihat hancur tak beraturan akibat jahitan operasi. Yang lebih parahnya lagi, kakinya lumpuh akibat tembakan peluru saat mengejar kawanan penjahat. Dia sudah tidak dapat berjalan lagi dan harus menggunakan kursi roda. Pokoknya keadaan dia sangat mengenaskan”, tutur Dhika menjelaskan. “Gimana Bu... Apa boleh dia tetap main ke rumah? Nggak mengganggu tamu-tamu yang lain kan?

                Bu Minah sejenak diam setelah mendengar penuturan dari anaknya. Dirinya mulai berpikir, jika Dhika jadi membawa temannya itu ke rumah, pasti para tamu undangan merasa terganggu dan selera makan mereka hilang melihat keadaan teman Dhika yang menggenaskan itu.

                “Ini kan acara buat menyambut anak saya, bukan menyambut temannya yang cacat itu!”, Bu Minah bergumam dalam hati.

                Lantas Bu Minah melanjutkan pembicaraan....
                “Begini saja nak, lebih baik kamu titipkan saja temanmu itu di rumah temanmu yang lain di dekat sini. Nanti kalau acara kita sudah selesai dan tamu sudah pada bubar, baru kamu bawa ajak dia ke rumah...

                “Tapi masalahnya, sekarang kami sudah ada di depan rumah Bu...

                “Lho.. Kok kamu nggak bilang daritadi sih!”, tukas Bu Minah sembari tersenyum setelah mendengar bahwa anaknya sudah berada di depan rumah.

                Segera Bu Minah menutup telepon dan berlari ke pintu depan. Tak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Berharap dapat segera melepas rindu dengan putra semata wayangnya itu. Dan ketika Bu Minah membuka pintu lebar-lebar, di hadapannya terdapat seorang pemuda yang berusia kira-kira sama dengan putranya. Tergolek lemah di atas sebuah kursi roda yang berada di halaman rumah. Tangan kanannya patah, dapat dilihat dari perban yang melilit di tangannya. Wajahnya terlihat sangat lusuh sehingga sulit dikenal...

                “Kamu teman Dhika? Mana anak saya? Mana Dhika?”, tanya Bu Minah kepada pemuda tersebut.

                “Anak Ibu ada di hadapan Ibu...”, jawab pemuda tersebut.

                “Mana...? Tidak ada..! Kamu jangan main-main ya dengan saya!”, ujar Bu Minah dengan rasa jengkel.

                “Saya Dhika Bu... Anak Ibu...”, kata pemuda tersebut.

                “Kamu Dhika...?!! Tidak mungkin!”, bantah Bu Minah dengan rasa tidak percaya.

                “Iya Bu... Saya Dhika. Silakan Ibu perhatikan dan lihat baik-baik tanda biru di lengan kiri saya ini”, ujar Dhika sambil memperlihatkan lengan kirinya kepada Bu Minah.

                Segera Bu Minah melihat lengan kiri pemuda tersebut. Alangkah terkejutnya Bu Minah saat dia melihat lengan kiri pemuda tersebut, terdapat sebuah bekas berwarna biru, mengingatkan dia tentang kejadian beberapa tahun silam saat dirinya mencubit Dhika sehingga menimbulkan bekas berwarna biru yang tak dapat hilang. Bu Minah pun tersadar...

                “Dhika... Kamu Dhika...!!”, teriak Bu Minah sambil menangis memeluk putra yang selalu dinantikannya pulang.

                “Iya... Aku Dhika... Anak Ibu!! Kenapa? Kenapa Ibu jahat menyuruhku untuk berada di rumah teman saja, tidak boleh ke rumah. Apa Ibu malu sama orang lain dengan keadaanku yang seperti ini?!” teriak Dhika. Bercucuran air mata Dhika membasahi pipinya.

                “Tidak Nak.. Tidak..!. Maafkan Ibu Nak... Maafkan Ibu....!!”, teriak Bu Minah seraya meraung.

                Isak tangis dan haru mewarnai kepulangan Dhika. Awan mulai berubah menjadi mendung disertai kilat.Dan langit pun turut menangis tak dapat lagi menahan kesedihannya...








                 






Senin, 19 September 2011

Satu Kata Delapan Huruf

Oleh : Aji Caya Dhika

            Ini adalah kisah perjalanan seorang pemuda biasa, dimana layaknya seorang pemuda, begitu sangat menggebu-gebu semangat jiwanya tuk mencari jati diri dan arti hidup sebenarnya. Merupakan sebuah perjalanan panjang yang di alami oleh diriku sendiri.
Inilah kisahnya....

            Aku adalah seorang siswa lulusan dari SMP Negeri 11 Pontianak. NEM (Nilai Ebtanas Murni) yang kuperoleh pada saat itu hanya berjumlah 29,80 dari 4 mata pelajaran  yang di-UAN kan. Di tahun itu, jumlah nilai demikian bisa dikategorikan sedang atau pas-pasan Kemudian, aku bersama ayahku mendaftarkan diriku di SMA X Pontianak, salah satu sekolah favorit pada saat itu, dan memang sudah menjadi keinginanku sejak SMP. Namun di hari terakhir pendaftaran, ternyata Tuhan berkehendak lain.



Sambil menunjuk papan daftar peserta pendaftaran siswa baru dengan jari telunjukku...
           
Lho kok, name aku tak ade pak?”, tanyaku kepada ayah sambil berusaha mencari-cari namaku. Aku memanggil ayahku dengan sebutan bapak.
           
Iyo toh le, kok nama kamu nggak ada toh disini..”, sahut ayahku dengan logat meddok khas Jawa. Ayahku sangat fasih berbahasa Jawa, karena sejak kecil beliau dibesarkan disana. Berbeda sekali denganku yang sangat fasih menggunakan bahasa Melayu karena sejak kecil dibesarkan di kota yang dilalui garis khatulistiwa ini, yang bermayoritaskan suku melayu.

Ape mungkin aku dah gugur ye Pak?”, tanyaku dengan perasaan cemas.

Tiba-tiba...

Wah..le.. iki namamu.. AJI CAYA DHIKA.. namamu masuk daftar hitam le,urutan 250 dari 212 siswa yang diterima, nggak masuk ni!”, kata ayahku sambil menunjukkan namaku.

Yaahh... Yaudala kalo ga masuk.”, kataku dengan perasaan kecewa.

Sudahla le, kamu bisa masuk di sekolah lain kok.. Masih banyak juga sekolah yang lebih bagus”, kata ayahku seraya menghiburku.

Tapi sekolah mane pak?” tanyaku.

Kan masih ada SMA 7, disana juga bagus kok, bapak yakin kamu pasti masuk.”, jawab ayahku.

Iye sih pak, tapi aku pengen disinik pak.” ujarku dengan sangat ngotot.

Mau gimana lagi toh le, nama kamu sudah nggak masuk”, kata ayahku sambil mengelus-ngelus kepalaku menggunakan telapak tangan kanannya.

Yaudalah.. mau gimane agik..”, ucapku dengan pasrah.

            Kami pun berlalu meninggalkan sekolah itu bergegas menuju SMAN 7 Pontianak. Jujur aku sangat kecewa dan sedih, mungkin inilah akibat kurang giat belajar dulunya sehingga nilaiku tidak dapat bersaing dengan peserta lain. Penyesalan memang selalu datang di akhir. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Menyesal tiada gunanya lagi.

            Aku segera melakukan registrasi, di SMAN 7 Pontianak aku bertemu kawan-kawanku SMP seperti Irwan, Ryan, Bayu, Dedy, Cahyo dan yang lainnya. Mereka memang berminat melanjutkan pendidikan disini, terkecuali aku. Tapi alhamdulillah ya aku diterima disini. Namaku berada di urutan 46 dari 212 peserta yang diterima. Aku masih bersyukur bisa masuk di sekolah negeri, kupikir dengan bersekolah di sekolah negeri, orang tuaku tidak terlalu terbebani oleh biayanya yang lebih terjangkau daripada bersekolah di sekolah swasta.

Kesan pertama saat aku mengijakkan kaki disini adalah aku sangat prihatin dengan bangunannya. Terkesan seperti bangunan tua yang lama. Warna cat yang membalut dindingnya sudah terlihat usang. Pagar yang mengelilinginya pun sudah tampak miring sekitar 45 derajat. Apalagi saat aku memasuki aulanya, terlihat seperti bukan aula pada umumnya.

Aaahh...inikah aulanya? inikah sekolah yang akan ku tempati selama 3 tahun nanti, menyedihkan sekali..tapi ya sudahla, jalani sajalah.”, bisik kecilku dalam hati.

Meskipun bangunannya terlihat memprihatinkan, namun aku pernah mendengar cerita orang-orang diluar sana bahwa sekolah ini sangat terkenal dengan ekstrakurikulernya, baik bidang olahraga, seni maupun organisasi. Kakak kawanku pernah mengenyam pendidikan disini dan sudah menjadi alumni, Namanya Deni Siswanto. Dia adalah anggota Paskibra SMA 7. Dia bisa dikatakan sukses dengan profesinya sekarang sebagai polisi. Jujur, hal itu menjadi motivasi untuk diriku. Aku berharap kelak aku bisa sukses seperti dirinya dengan mengikuti jejaknya bersekolah di sekolah yang sama.



Lanjut kisah...

            Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap penerimaan siswa baru pasti akan diselenggarakan Masa Orientasi Siswa atau yang lebih dikenal sebutan MOS. Aku dan siswa baru lainnya pun mengikuti melalui bimbingan para panitia yang terdiri dari anggota OSIS dan MPK di sekolah ini. Aku masuk di kelas XA.
Dan pada saat hari dimana promosi ekstrakurikuler (ekskul). Banyak sekali ekskul yang mempromosikan diri mereka di kelas, salah satunya adalah Paskibra.

            Dek, siapa yang mau masuk ekskul Paskibra?” tanya Kak Wicha kepada kami siswa Kelas XA. Namun belum jua ada yang mengangkat tangan.

            Nggak ada yang mau ni?”, tanyanya lagi.
           
            Paskibra ye kak?”, tanya ku balik.

            Iya dek, Paskibra , Pasukan Pengibar Bendera.”, katanya sambil menghampiri mejaku.

            Tapi saya di SMP dulu ndak pernah ikut kak..

            Gapapa dek, banyak kok seniornya dulu gak ikut Paskibra di SMP tapi di SMA nya ikut, sayang loh kalo nggak ikut, postur badan adek tinggi, cocok kok

Yauda deh kak.. saya pikir-pikir dulu ye kak

Iya, kalau adek berminat, entar diisi formulir ini.. dan diserahkan secepatnyake kakak ya.. kalo ada yang kurang jelas, adek bise lihat di mading,disana ada profil tentang Paskibra atau nanti bisa tanya lagi ke kakak.”, kata kak Wicha

Iya kak.. terima kasih”, kataku.




Selain Paskibra, banyak juga ekskul lain yang melakukan promosi. Aku juga sempat berminat pada ekskul PMR dan Pramuka. Aku pun menerima semua formulir yang diberikan mereka.

Wah.. jadi bingung ni pilih ekskul yang mane, same-same bentrok waktu latihannye.”, ujarku kepada Dicky, kawan baruku di kelas.

Aok ni, bingung..Cobe bise pilih semue. Yaudah kite isi jak semue formulir ni, nanti kite kumpulkan.”, jawab Dicky. Kebetulan dia sama sepertiku, kebingungan memilih ekskul antara PMR, Pramuka, dan Paskibra.

            Kite liat mading jak yok, siape tau kite bise menemukan sesuatu yang menarik disana!”, ajakku.

            Haa... ide bagus, ayokla..”, sahut Dicky mengiyakan ajakkanku.


Lalu aku dan Dicky bergegas meninggalkan tempat duduk, berjalan dari kelas menyusuri selasar seraya mencari dimana letak mading yang dimaksud Kak Wicha. Tentu saja masih dengan menggunakan seragam putih biru SMP.

            Nah ji’, madingnye..!”,kata Dicky sambil menunjuk ke arah papan mading.

            Aok nah madingnye.. mantap eh isinye, semue profil ekskul ade disini..’”, sahutku.


            Di mading tersebut memang terdapat banyak profil ekskul seperti Pramuka, PMR, Cheers, Dancer, Tari Tradisional, Rohis, Paskibra dan lain-lain. Tapi hanya ada satu profil yang sangat menarik perhatianku, terpampang beraneka ragam foto kegiatan disana...

            Study Tour Paskibra SMA Negeri 7 Pontianak di Singkawang...”, ucapku yang membaca tulisan di mading sembari melihat foto kegiatan.

            Wess.. mantap kayaknye tuh, ke Singkawang!”, sahut Dicky.

            Aok ni bro, pengen ni aku ikot.. seumur-umur aku tak pernah ke Singkawang wa..”, kataku dengan polos.

            Hah.. kau tak pernah ke Singkawang..? sepoknye gak!”, kata Dicky meledekku.

            Tu lah.. sian kan, dahla aku ikot paskibra jakla, siape tau bise ke Singkawang kayak di foto ni, aku pengen benar ke Singkawang pek, aku ndak pernah ke luar selaen kota Pontianak ni boy”, kataku sambil menyengir polos.

            Haha... Degel gak kau ni..”, sahut Dicky yang mendengar keinginan polosku tersebut.

            Lalu.. PMR dan Pramuka?”, sambungnya lagi.

            Aku ndak ikut.. aku ikut Paskibra jak.. kau mau ikut ndak?”, tanyaku.

            Aokla.. walau badan aku tadak tinggi, aku ikut jakla.. asikk nampaknye ni..”, jawab Dicky.

           
           
Masa Orientasi Siswa pun telah selesai keesokan harinya. Kami sudah resmi menjadi siswa SMA, meskipun masih harus mengenakan seragam putih biru SMP karena seragam putih abu-abu SMA kami baru saja dipesan oleh pihak sekolah. Hari itu juga batas terakhir pengumpulan formulir pendaftaran ekskul Paskibra, aku dan Dicky tanpa berpikir panjang langsung mengumpulkan formulir ke kak Wicha. Kami disuruh berkumpul di aula karena ada informasi lebih lanjut yang akan diberian oleh senior. Disana kami diberi arahan mengenai seleksi anggota Calon Paskibra (Capas) dan disuruh membawa perlengkapan yang wajib dibawa pada saat seleksi. Seleksi dilaksanakan pada hari Minggu.

Sepulang sekolah, tanpa pikir panjang kutancapkan gas motorku mengitari jalan menuju toko dimana aku bisa membeli semua perlengkapan. Aku membeli roti, name tag, air mineral, alat tulis, dan tak lupa handuk putih kecil ber-merk good morning yang sangat sulit dicari, sampai-sampai aku harus memasuki sepuluh toko baru bisa mendapatkannya.

            Minggu pagi pun tiba. Usai sholat subuh dan mandi, segera ku kenakan pakaian olahraga SMP-ku lalu pergi ke dapur untuk sarapan pagi. Sebelum berangkat, tak lupa aku bersalaman mencium tangan ibuku seraya berpamitan. Dengan semangat, aku berangkat menuju ke sekolah.

            Sesampainya di sekolah, aku langsung melakukan registrasi dan mengambil nomor urut. Beruntung aku tidak datang terlambat. Selesai registrasi, aku disuruh ke berkumpul di lapangan bersama peserta lainnya. Disana kami akan melakukan tes tahap pertama yaitu tes fisik. Tes fisik itu berupa lari, sit-up dan push-up.
Pada saat aku melakukan push-up...

            Ape push up kayak gitu tu..!!, kayak buaya’ kawen jak!”, teriak salah satu senior.
            HAHAHA... Aok, kayak buaya’ kawen, betolkan lah dek posisi badanmu itu.”, sahut temannya.

            Wajar saja, aku sangat jarang sekali push-up sehingga harus bersusah payah membenarkan posisi badanku.



            Seleksi tahap pertama telah selesai, selanjutnya adalah tes tahap kedua yaitu tes PBB (Peraturan Baris-Berbaris). Masih berada di lapangan...

            Siiiiiaaaappp.... Gerak!!” , teriak seorang pria yang berada di depanku dengan suara lantang. Pria tersebut tidak lebih tinggi dariku, namun dia lah pelatih Paskibra disini. Namanya adalah Marsihat.

            Hadap kiriI.... Gerak!!”, teriaknya lagi.

            Aku pun mengikuti aba-aba yang diberikannya. Beberapa senior dan panitia melakukan penilaian. Aku dan beberapa peserta lainnya masih terlihat sangat canggung. Maklum saja, aku tidak terlalu paham dengan yang namanya baris-berbaris.

            Usai tes tahap kedua, dilanjutkan tes tahap terakhir, yakni tes wawancara. Kami dipersilakan masuk satu per satu di dalam sebuah kelas dan berhadapan langsung dengan senior yang melakukan penilaian.

            Selamat pagi!”, ucap senior di depanku dengan tegas.

            Siap pagi!”, jawabku tak kalah tegas. Aku sudah diberitahu oleh kawanku, Eldy di ruangan tunggu tadi bahwa kalau menjawab pertanyaan dari senior itu harus menggunakan kata ”siap”.

            Perkenalkan diri kamu...

            Perkenalkan, nama saya Aji Caya Dhika. Siswa kelas XA Tempat tanggal lahir, Pontianak, 29 Mei 1994. Alamat jalan Adi Sucipto Gang 822 Famili No. 2.

            Sudah? Itu saja?
           
            Siap.. Sudah kak!

            Kamu tahu darimana tentang Paskibra SMA 7?”

            ”Siap.. Dari Kakak kawan saya yang pernah mengenyam pendidikan disini dan sudah menjadi alumni, namanya Deni Siswanto. Dia adalah anggota paskibra SMA 7 disini.”

            Deni angkatan berapa?

            Siap.. kalau tidak salah angkatan 14 kak.

            Ohh ya..ya

Selama disana             senior tersebut bertanya terus seperti seorang wartawan atau KPK. Sikap, pengetahuan, dan  kepribadian menjadi kriteria penilaian, sampai-sampai.....

            Di formulir ini, tertulis bahwa kamu bisa menyanyi, benar kamu bisa menyanyi?”, tanya kakak itu lagi.

            Si...si..siap, bisa kak. Tapi suara saya tidak terlalu bagus kak”, jawab ku agak gugup.

            Tidak apa-apa, saya ingin mendengarnya.. terserahla mau lagu apa.”, kata senior itu.

            Baiklah kak”, kataku.

            Aku berpikir sejenak, lagu apa yang sebaiknya kunyanyikan. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku lagu D’Masiv dengan judul Merindukanmu yang lagi nge-trend pada saat itu. Awalnya aku malu dan ragu, namun segera ku tarik nafas panjang, dan aku pun mulai melantunkan lirik dengan suara ala kadarnya...

            Saat aku tertawa diatas semua..
             Saat aku menangisi kepergianmu..
             Aku ingin engkau selalu ada..
             Aku ingin engkau.. aku kenang..

             Selama aku...
             Masih bisa bernafas..
             Masih sanggup berjalan..
             Ku kan slalu memujamu..
             Meski ku tak tahu lagi..
             Engkau ada dimana..
             Dengarkan aku.. Ku Merindukanmu...

            Selesai aku melantunkan lirik, senior tersebut mengangguk-nganggukkan kepalanya, entah apa maksudnya aku pun tak mengerti. Haha.. Mungkin suaraku terdengar sumbang di telinganya, aku merasa malu. Tapi tak apalah pikirku dalam hati.

            Hari Senin, tibalah pengumuman siapa-siapa saja yang diterima sebagai capas. Pengumuman tersebut ditempel di mading, tertulis di sebuah kertas karton kuning. Ku lihat di sana terdapat namaku dan Dicky. Alhamdulillah ya diterima...

            Tugas pertama kami selaku capas adalah mengibarkan sang saka merah putih pada upacara Hari Kemerdekaan RI di sekolah. Hampir kurang lebih sebulan lamanya, setiap sore kami dilatih PBB oleh para senior yang masih sekolah maupun yang sudah menjadi alumni. Mulai dari posisi siap, hadap kiri, hadap kanan, hadap serong kiri, hadap serong kanan, jalan di tempat, hormat, hingga langkah tegap maju. Dengan mengenakan pakaian khas, kaos putih yang dibalik, training dan topi biru SMP, botol air minum mineral yang bertuliskan nama, capas angkatan XIX, handuk putih kecil ber-merk Good Morning serta tak lupa name tag,.

            Dan pada saat menjelang H-4, kami diberitahu letak dan posisi dimana kami akan bertugas. Aku pun mendapatkan tugas...

            Hmmm... Redha, Esa , Aji gabung di pasukan sembilan.” perintah Kak Marsihat. Sebenarnya bukan pasukan sembilan sebutannya, melainkan pasukan delapan. Kami terbiasa menyebutnya dengan pasukan sembilan karena jumlah orangnya ada sembilan. Pasukan ini bertugas membawa dan mengibarkan bendera.

            Siap kak..”, jawab kami serentak.

            Redha jadi pengibar, Esa yang megang bendera di tengah, dan Aji jadi penggerek..” kata Kak Marsihat. Kebetulan postur badan kami serupa tapi tak sama.

            Saye jadi penggerek kak?” tanyaku dengan heran.

            Iye.. kamu jadi penggerek, yang narik-narik tali tu, kayak narik tali kelayang bah. Bise kan?”, ujar kak Marsihat dengan tersenyum.

            Siap.. bisa kak.”, jawabku dengan tersenyum pula. Ku beranikan diri untuk menerima perintah dari Kak Marsihat, apa salahnya jika aku mencoba.

            Haaa... gitu bah, masa’ cuma narik tali kayak gitu ndak bise kan”, ujar kak Marsihat.

            Dimulai lah karir ku sebagai seorang penggerek. Selama itu pula aku, Esa, dan Kak Redha dilatih mengibarkan, dan menaikkannya hingga ke ujung tiang serta harus tepat saat lagu Indonesia Raya selesai dinyanyikan. Bukan tugas yang mudah berada di pasukan sembilan, tim pengibar, dan sebagai seorang penggerek tentunya. Apalagi ini adalah pengalaman pertama bagiku. Semua mata peserta upacara nanti pasti akan tertuju pada satu benda yang sangat sakral, yaitu Bendera yang kami kibarkan!.

            Tibalah hari yang sangat dinantikan, yaitu Hari Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2008. Semua persiapan telah dilakukan dengan sangat matang. Mulai dari atribut, bendera, kesiapan petugas hingga kesiapan peserta upacara.




Saat MC membacakan susunan acara, ”Persiapan Pengibaran Bendera Merah Putih”...

            Siiaaaaaaap....Gerak!, Langkah tegaaaaap....majuuuu...... jalan!”, teriak Kak Saddam. Senior kelas XII yang menjadi komandan pasukan.

            Terdengar hentakan ”Prok...prok..prok..” sepatu PDH dan pantofel milik kami. Mengenakan PDU, sarung tangan putih di telapak tangan kiri kanan, peci hitam  serta syal merah putih yang terikat dileher, kami ayunkan tangan dan kaki dengan langkah yang tegap menuju tiang bendera. Tidak kalah dengan Paskibraka yang mengibarkan bendera di istana negara.

            Jalan di tempaaat.... Gerak!

            Kami pasukan sembilan pun langsung melakukan gerakan haluan menghadap ke arah tiang bendera. Diiringi pasukan tujuh belas.

            Buka barisan.... Jalan!, Buka formasi.... Jalan!
           
            Pasukan tujuh belas pun melangkah dan membuat formasi berbentuk huruf U menghadap ke tiang bendera juga.

            Hentiiii.... Gerak!

            Semua pasukan berhenti jalan di tempat. Lalu aku, Esa, dan Kak Redha bertiga melangkah menuju ke depan tiang.

            Luruskan!, Lurus!.” teriak Kak Redha.
           
            Esa dengan sigap langsung melakukan gerakan jalan di tempat seraya mengambil bendera dari bakinya yang pada saat itu dibawa oleh Kak Ayu.

            Tiga langkah kedepan... Jalan!. Hadap kanan, hadap kiri...Gerak!. Kerjakan!

            Aku pun segera membuka tali, melihat sekali ke atas untuk memastikan bahwa tali tidak terbelit. Ku serahkan tali pengait ke kak Redha, untuk dikaitkan pada bendera yang dipegang oleh Esa. Setelah bendera dikait, jantungku berdebar pada saat bendera akan dibentangkan.. Apakah bendera ini akan terlipat, terbalik posisinya, merah dibawah dan putih diatas seperti bendera Polandia?. Atau jangan-jangan talinya malah terputus?. Bercucuran peluh membasahi wajah hitam manisku. Tak henti-hentinya kekhawatiran itu melintas dalam benak ini. Kak Redha memberikan kode kepadaku bahwa bendera akan segera dibentangkan. Aku pun segera mundur ke belakang seraya mengayunkan tangan ke atas menarik tali dengan sekuat tenaga....

            Bendera.... Siap!” teriak Kak Redha.

            Terdengar suara ”weeessss....” dari peserta upacara. Dan terpampang di depan kedua bola mataku sebuah bendera yang terbentang dengan posisi merah di atas serta putih dibawah. Sebuah bendera yang mempunyai makna. Merah artinya berani dan putih artinya suci. Aku bersyukur ternyata kekhawatiranku tidak menjadi kenyataaan. Namun tugas kami belum selesai...

            Kepada.... Sang saka merah putih.....Hormaaaaattttt....” teriak Ray, kolegaku selaku pemimpin upacara.

            Hiduplah.... Indonesia Raya...”, teriak suara dirigen dengan sangat merdu.

            Gerak..!

            Tiba-tiba sekujur bulu romaku merinding saat mendengar seluruh manusia yang berada di lapangan beramai-ramai hormat ke arah bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan republik ini,  Indonesia Raya. Sebuah lagu yang syarat penuh dengan emosi dan historis para the founding father, pejuang, serta pahlawan itu mengiri bendera lambang negara bumi pertiwi menuju puncak tertinggi tiang. Ku tahu semua cucuran keringat yang terus membanjiri tubuhku tak akan bisa menggantikan cucuran darah parah pahlawan yang membanjiri tanah air ini demi satu tujuan, yakni mengantarkan Indonesia menuju gerbang kemerdekaan!. Tak ada lagi yang bisa menghalangi ayunan tanganku untuk terus menarik tali bendera seraya mengikuti ketukan irama lagu hingga bendera sampai di ujung tiang...

            Hiduplah... Indonesia Raya...

            Tegaaaaaakk.... Gerak!”

            Tangan kananku sudah tak bisa lagi menarik tali, tanda bahwa bendera sudah sampai di ujung tiang tepat pada saat lagu selesai dinyanyikan.

            Ahhh... Alhamdulillah.. Bendera pas sampai”, bisikku dalam hati.

            Setelah melakukan penghormatan kepada bendera, kami bertiga kembali ke pasukan sembilan. Kak Saddam memberikan aba- aba tutup formasi dan barisan. Lalu membawa pasukan menuju ke hadapan pembina upacara, melaksanakan laporan bahwa pengibaran telah selesai dilaksanakan. Kami pun kembali menuju ke daerah persiapan. Dalam posisi istirahat di tempat, sesekali kulirikkan kedua bola mataku ke arah ujung tiang bendera, terlihat disana sebuah bendera dengan gagahnya berkibar berhasil dikibarkan oleh orang-orang terpilih dalam sebuah pasukan bernama PASKIBRA!


            Pengibaran sukses dilakukan, kami sangat bersyukur dan segera menyelenggarakan acara syukuran makan-makan di rumah Ayi, teman se-angkatanku.


            Tugas kami belum selesai ternyata, di depan kami sudah banyak menanti perlombaan LKBB dan LTUB antar sekolah. Dan alhamdulillah, kami sering menjuarai perlombaan tersebut. Begitu bangganya kami bisa membawa harum nama sekolah.
Terkenang selalu di benakku ketika Kak Marsihat marah pada saat melatih kami, dengan menarik lengan jaket kanan kirinya, membalikkan topi, dan berteriak ”Maok kemane agik...!!!!” dan ”Haaa... coba’ gituk, kalian ni bise bah, cuman pura-pura jak..

Salah satu perlombaan yang sangat berkesan bagiku adalah pada saat LTUB di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa. Tiang bendera yang ukurannya sangat tinggi melebihi tinggi tiang sekolahku menjadikan itu sebuah tantangan pagi setiap penggerek masing-masing sekolah, tanpa terkecuali aku. Syukurlah aku bisa menjawab tantangan tersebut, kami berhasil menjadi yang terdepan dalam meraih gelar juara, dan sempat membuat tangis peserta dari sekolah lain. Tak lupa juga dalam ingatanku ketika berhasil meraih The Best Paskibra di ajang EGP se-Kalbar.

            Keakraban antara satu anggota dengan anggota lainnya begitu erat. Setiap hari Senin dan Rabu kami selalu ngumpul di aula saat jam istirahat. Mendengar wejangan-wejangan yang diberikan senior, sharing, di seri (push-up), 1 seri sama dengan 10 kali push-up jika kami melakukan satu kesalahan. Dan anehnya jika selesai di seri, kami selalu mengucapkan kalimat ”Siap, terima kasih..!”. Aneh banget kan! Di seri kok malah bilang terima kasih. Latihan rutinnya setiap hari Minggu, pukul 6 pagi, tetap dengan pakaian yang sama seperti latihan 17-an. Yang datang terlambat harus jalan jongkok. Kami tidak hanya diberikan materi PBB pada saat latihan, namun juga diberikan materi seputar Paskibra.

            Setelah aku dan kawan-kawan se-angkatanku dikukuhkan. Kami mendapatkan baju serta celana training latihan berwarna putih dan merah. Baju latihannya dari angkatan pertama sampai sekarang sama lho. Dan ada lagu yang diciptakan seniorku mengenai baju itu. Begini liriknya...

            Ayo mama, mama jangan marah beta..
              Beta cuma, cuma ikut paskibra..
              Ayo mama, mama jangan marah beta..
              Paskibra memang luar biasa..

              Celana merah, bajunya putih..
              Sebelah kiri, burung garuda..
              Kami ini, memang pertama..
              Yang ada di luar pulau Jawa..

            Memang paskibra kami merupakan paskibra pertama yang berada di luar pulau Jawa, didirikan oleh Kak Iwan Gunawan yang pada saat itu adalah ketua OSIS juga. Bersama rekan-rekan, beliau berhasil mengantarkan Paskibra SMA Negeri 7 Pontianak mencapai angkatan XXII  sampai sekarang ini. 
 
Pada bulan April, aku mencoba mengikuti seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat kota. Aku, Kak Redha, Selly, Hillary, Esa dan Nisa menjadi utusan dari sekolah yang ditunjuk oleh Kak Marsihat berdasarkan pertimbangan senior-senior yang lain. Awalnya aku ragu, mengingat berat badanku hanya 49 kg, dengan tinggi 170,5 cm, ukuran yang tidak ideal! Tapi apa salahnya toh, kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika kita belum mau mencoba. ”Jika tahun ini gagal, aku akan mencoba lagi tahun depan”, pikirku dalam hati.

Dilakukanlah segala persiapan mulai dari fisik hingga materi. Lari-lari mengelilingi Stadion SSA merupakan santapan makanan tiap sore, meskipun fisikku tidaklah terlalu kuat untuk lari, tapi aku optimis saja waktu itu. Mempelajari PBB, pengetahuan umum sampai-sampai harus belajar menari dari seniorku untuk persiapan seleksi bidang seni nantinya.

Tibalah hari dimana seleksi dilakukan. Pertama kali adalah seleksi administrasi, rekanku Nisa sudah gugur duluan, dikarenakan tinggi badan yang tidak memenuhi syarat. Tinggal lah kami berlima sekarang. Seleksi dilaksanakan selama tiga hari. Hari pertama adalah tes fisik, hari kedua tes pengetahuan umum dan PBB, hari ketiga tes Bahasa Inggris dan seni. Tersisa 64 peserta dari 112 peserta yang mendaftar, namaku termasuk dalam salah satunya

Tes hari pertama berhasil kulalui, aku berada di posisi empat dari terakhir pada tes lari. Fisikku memang tidak kuat lari.

Tes hari kedua pun berhasil dilalu juga, masih ingat dalam ingatanku ketika salh satu dewan juri, Kak Darmawan bertanya kepadaku, ”Siapa Bupati KubuRaya?”. Kebetulan aku yang tinggal di Kubu Raya ini pun menjawab, ”Siap..Bapak Muda Mahendrawan SH!”. Beruntung sekali bagiku pada saat itu, peserta lain sepertinya mendapat pertanyaan yang lebih sulit.  Pertanyaan yang paling banyak menjebak para peserta adalah ”Berapa jumlah ekor burung garuda?”. Para peserta kebanyakan menjawab ” delapan”, padahal jawaban yang benar adalah ”satu”. Memang benar jumlah ekor burung garuda hanya satu, kecuali kalau ditanyakan jumlah bulu ekor burung garuda, akan benar jawabannya delapan.

Hari kedua berlalu berganti hari ketiga. Hari ketiga adalah tes bahasa Inggris dan seni. Kami diberikan pertanyaan tertulis, ” What do you know about Flag Hoisting Squad?” dan “ If you member of Flag Hoisting Squad, what do you want to do?”. Flag Hoisting Squad yang dimaksud adalah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Aku pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sangat singkat dan sederhana. Maklum, aku bukanlah siswa yang pintar berbahasa Inggris. Terlihat semua peserta menulis jawaban dengan sangat panjang dan aku sedikit minder. Lalu di ruangan lain, sudah siap juri yang akan melakukan seleksi bidang seni. Kami bergantian masuk ke dalam ruangan itu. Aku yang mendapat nomor urut 51 ini disuruh intoduce yourself  menggunakan bahasa Inggris serta menunjukkan bakat atau alat seni apa yang bisa dimainkan. Aku menyanyikan lagu ”Aek Kapuas”, kemudian aku bermain alat musik gitar dengan diiringi lagu khas daerah Sambas berjudul ”Sungai Sambas Kebanjiran” yang kupelajari sehari sebelum tes berlangsung dari kawan SMP-ku, Iwan Sinaga Ramadhan. ”Yooo..... ngape tang gaye... ciikube..cikube..”, begitulah sepenggal lirik yang sangat membekas di hatiku. Tak lupa aku menunjukkan tari kreasi yang sempat aku pelajari dari seniorku. Gerakan badanku sangat kaku sekali , tapi aku percaya diri saja.

Tak sabar ku menanti pengumuman siapa-siapa yang akan terpilih sebagai calon anggota Paskibraka ini. Tiap hari dalam setiap sholatku berdoa, meminta kepada Allah SWT semoga saja diriku yang sangat pasrah ini terpilih. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ku lihat kertas yang tertempel di kaca jendela Dispora Pontianak.. ”Dag... Dig.. Dug...”, jantungku berdetak semakin kencang dan tak karuan.

Ade ndak name ko disitu?”, tanya Dodi, peserta dari MAN 2.

Tak tau la ni wakk.. Baru gak nak dicari ni.”, jawabku.

Haaa... Cari jak, aku rase sih ade...

Semoge jak ni wak...

Haaaa.... Alhamdulillah.. Ade wak name aku! Aku peringkat delapan dari enam belas peserta laki-laki!”, seruku.

Kau lolos ndak?” tambahku lagi.

Aku lolos gak boy. Syukurla, berarti siap-siap jak kite nunggu masuk diklat ni bulan Agustus...selamat boy!”, ujar Dodi seraya berjabat tangan memberiku selamat.

            Aok wak, makaseh ye!”, ujarku sembari erat menjabat tangan Dodi.

            Tak henti-hentinya senyum kebahagiaan terpancar dari wajahku saat menuju ke sekolah. Segera ku parkirkan motor tatkala sudah sampai di parkiran. Aku menuju tangga di depan sekolah, di tangga tersebut Kak Marsihat sudah duduk seperti tak sabar menanti kabar dariku...
           
            Gimane Ji?, Lolos ndak ko?”, tanya Kak Marsihat.

            Lolos kak! Kamek lolos di kota! Peringkat delapan dari enam belas peserta!”, jawabku.

            Kau lolos di kota jak?

            Iye kak... Gimane lagi, kalo rejekinye cuman sampe situ..

            Ohhh... iyelaa kalo begitu”, kata Kak Marsihat. Beliau tampakya sedikit kecewa  mendengarku terpilih bertugas hanya di tingkat kota saja. Mungkin pikir beliau, daripada bertugas di kota tahun ini, lebih baik aku dipersiapkan setahun lagi untuk seleksi tahun depan menuju tingkat propinsi bahkan nasional. Mengingat aku masih duduk di kelas X.

            Redha, Selly.. Hillary dan Esa gimane?” tanya Kak Marsihat lagi.

            Tadik sih saye ade liat name mereke. Kak Redha dan Selly same kayak saye, di kota jak. Hillary di propinsi kak. Tapi tak ade name Esa..”, jawabku.

            Ohh Redha,Selly di kota juga... Hillary di propinsi ye, syukurla masih ade yang bise masuk propinsi, semoge jak nanti bise lolos ke nasional. Esa tak lolos?

            Ha’ ah kak... Esa tadak lolos kak...

            Yauda.. tahun depan ikut lagi jak. Kan masih bise..”, ujar Kak Marsihat.

            Alhamdulillah aku diberikan kesempatan oleh Allah SWT terpilih menjadi calon anggota Paskibraka Kota Tahun 2009. Nasibku lebih beruntung dibandingkan dengan teman-temanku yang lainnya yang kurang beruntung. Tak henti-hentinya rasa syukur terucap di bibirku. Aku sangat tidak menyangka hal ini bisa terjadi.

            Tanggal 8 Agustus 2009, saatnya diriku dan teman-teman yang terpilih masuk asrama untuk mengikuti diklat. Aku, Hillary, Selly dan Kak Redha harus meninggalkan bangku sekolah untuk sementara waktu, membawa nama baik sekolah untuk sebuah tugas dan kewajiban, yakni mengibarkan bendera pusaka. Aku, Selly dan Kak Redha bertugas mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka di stadion PSP Keboen Sajoek. Sedangkan Hillary bertugas mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka di kantor markas Pak Cornelis MH, yakni kantor Gubernur.

            Tiga puluh dua siswa-siswi terpilih memasuki asrama untuk melaksanakan diklat Paskibraka Kota Tahun 2009. Asrama kami terletak di depan Taman Alun-Alun Kapuas, bernama Wisma Tanjung Ria I dan II. Hari pertama itu, aku mendapatkan kamar nomor  16. Disana terdapat dua orang temanku dari MAN 2 bernama Dodi, dan M. Syarif dari SMAN 5. Kamar kami lumayan besar, terdapat AC, televisi dan dua kasur tempat tidur. Aku yang datang paling lama di antara kami bertiga, terpaksa harus tidur di lantai. Namun solidaritas yang tertanam di diri kami sangat tinggi, kami sepakat akan bergiliran tidur di bawah. Satu hal yang membuatku kesal, kami tidak diperbolehkan menonton televisi. Jadi untuk apa ada televisi tapi tidak digunakan, mubazir kan namanya. Namun, inilah aturan, harus ditaati.

 Setelah meletakkan barang-barang, kami semua dikumpulkan di lapangan, lalu diberikan seperangkat perlengkapan latihan beserta atributnya  seperti baju, celana training, topi jepang, name tag, handuk dan sepatu. Pagi itu juga perlengkapan itu langsung kami kenakan, dan segera berlari mengitari sekeliling pasar beramai-ramai. Hari pertama fisik kami memang dikuras habis-habisan dengan berlari, jalan jongkok, serta berbaring di atas aspal dengan disengat panasnya sinar mentari. Mental kami seperti benar-benar diuji oleh Kak Fajar, Kak Darmawan dan Kak Ricky selaku pelatih.
           
            Hari - hari selanjutnya kami melaksanakan latihan rutin. Bangun sebelum azan subuh, sholat berjamaah bagi yang beragama islam. Para pelatih membangunkan kami dengan menggunakan alarm lagu ”Lupa-Lupa Ingat” by Kuburan Band yang lagi nge-trend pada saat itu. Lagu yang diperbesar volume suaranya dengan menggunakan toa itu, mengharuskan kami tanggap dan bergerak cepat. Kalau tidak bergerak cepat, kami akan mendapatkan hukuman berupa seri ataupun jalan jongkok. Lagu itu seperti menjadi momok menakutkan bagi kami sehingga trauma jika mendengarnya. Setelah shalat subuh, kami melaksanakan senam di taman alun-alun kapuas. Selesai senam, kami dipersilakan mandi, makan pagi dan apel pagi, lalu berangkat ke stadion untuk latihan. Dengan menggunakan atribut, sambil berjalan kaki, kadang juga sambil berlari-lari kecil seraya  menyanyikan lagu-lagu Paskibra seperti Hai Paskibra, Tinggalkan Ayah Tinggalkan Ibu, Oto Bemo serta lagu-lagu daerah. Hal ini menjadikan kami sebagai pusat perhatian warga di sekitar stadion. Wah..wah..wah...

            Malam harinya kami diberikan materi seni oleh pelatih bidang seni, Kak Asmien. Beliau sangat fasih berbahasa Inggris. Beliaulah juri yang menilai kami mengenai bidang seni dan bahasa Inggris pada saat seleksi. Pengetahuannya mengenai seni dan lagu-lagu daerah, terutama lagu daerah Kalimantan Barat pun sudah tak diragukan lagi. ”Saya gak ingin mendengar  tahun depan, masih banyak peserta seleksi yang menyanyikan lagu Aek Kapuas dan Cik-cik Periok. Bosan saya mendengarnya..Semua peserta hampir semuanya menyanyikan lagu itu.. ckckck”, kata beliau. ”Jadi saya mau, setelah kalian keluar dari diklat ini, kalian bisa memberikan materi lagu-lagu ini kepada adik-adik kalian yang akan mengikuti seleksi tahun depan”, tambahnya lagi. Lalu Kak Asmien mengajari kami lagu-lagu daerah seperti Cak Uncang, Dare Sibarang, Dara Muning, dan Tanjung Puting. Kepada kami yang berminat dengan materi seni tari, beliau juga mengajari kami tarian Saman dari Aceh. Aku lebih memilih untuk mengikuti paduan suara dan mempelajari lagu-lagu saja dibandingkan dengan tarian. Menurutku lagu-lagu ini kelak dapat aku ajarkan kepada juniorku di sekolah nanti yang akan mengikuti seleksi tahun depan. Setiap usai makan malam, kami selalu melakukan latihan dengan giat. Baik itu bagian tari, maupun paduan suara. Hasil latihan tersebut akan kami tampilkan pada malam pengukuhan, tanggal 15 Agustus 2009.

            Dan tibalah hari dimana kami akan dikukuhkan, segala persiapan sudah matang dilakukan. Mulai dari atribut PDU hingga kelengkapan upacara pengukuhan. Sebelumnya kami sudah terlebih dahulu beberapa kali melakukan gladi resik. Aku sempat khawatir ketika orang tuaku tidak muncul-muncul hadir dalam malam upacara pengukuhan ini. Sehari sebelumnya, kami diberikan kesempatan sekali saja menghubungi orang tua dengan menggunakan handphone untuk memberitahukan perihal pengukuhan. Ternyata kekhawatiranku salah, di pojokkan sana sudah berdiri ayahku dengan sorot tajam matanya menatap wajahku yang sudah berdiri tegap di lapangan. Sedikit terbesit rasa kecewa dalam hatiku, ketika ibu tak dapat hadir karena harus menjaga adik di rumah. Kasihan sekali ayahku, beliau  bersama  beberapa tamu undangan lain tidak mendapatkan tempat duduk. Rela datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan aku, putra satu-satunya melewati malam yang sangat bersejarah.

            Pak Sutarmidji selaku pembina upacara pun tiba ke wisma kami. Malam itu listrik padam, jadi panitia terpaksa menggunakan mesin generator yang suaranya sangat bising sekali. Jujur aku sama sekali sulit mendengar amanat yang diberikan oleh beliau, suara mesin generator mengalahkan suara microphone milik Pak Sutarmidji. Ditambah lagi posisi ku yang jauh dari posisi beliau, membuatku semakin sulit mendengar apa yang beliau sampaikan.

Usai amanat, tibalah pembacaan ikrar dan penciuman bendera merah putih. Inilah saat-saat yang sangat dinantikan kami semua. Malam ini secara sah kami akan dikukuhkan menjadi seorang anggota Paskibraka. Temanku, Ridho Darmawan memimpin pengucapan ikrar dan penciuman bendera merah putih yang diikuti oleh seluruh anggota. Suara lantang kami mengalahkan suara mesin generator. Jantungku berdegup semakin kencang tatkala pengucapan ikrar itu dilakukan. Apalagi saat giliranku melakukan penciuman bendera, terasa ”sesuatu” keluar dari bola mataku mengalir menuruni pipi kecilku. Rasa capek karena terlalu lama berdiri, terkalahkan oleh besarnya rasa haru yang ada di dalam benakku. ”Aku... Aku dengan segala keterbatasanku akhirnya bisa menggapai mimpiku.”, bisik dalam hati kecilku. ”Sesuatu” yang mengalir dari bola mataku kini bercampur dengan cucuran peluh di wajahku. Semakin deras aliran ”sesuatu” itu ketika ayahku menjabat tanganku seraya tersenyum tipis. ”Ku tahu ini tak terlalu bisa membuatmu bangga, namun percayalah.. ini akan menjadi batu loncatanku ke depan, aku akan berusaha membuatmu lebih bangga, ayah...”, janji ku dalam hati.

Upacara pengukuhan telah selesai, saatnya kami menampilkan atraksi seni paduan suara dan tari. Dengan semangat dan senyum bahagia, kami berhasil membuat para tamu undangan berdecak kagum terhadap penampilan kami. Malam itu sungguh malam yang sangat menyenangkan dan tak dapat terlupakan.

Jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 00.00. Pertanda bahwa hari telah berganti. Merupakan hari yang sangat bersejarah untuk negeri ini karena di hari itulah, peringatan ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-64. Tentu juga merupakan hari yang sangat kami, anggota Paskibraka nantikan. Dengan segala persiapan yang sudah matang, pukul 06.30 kami menuju ke Lapangan Sepak Bola Keboen Sajoek mengggunakan bis sekolah. Di dalam bis kami bernyanyi-nyanyi kecil sembari menghilangkan rasa deg-degan. Usai turun dari bis, kami menuju tribun stadion untuk melakukan persiapan akhir seraya berdoa agar pengibaran yang kami lakukan akan dapat berjalan lancar. Beban yang berada di pundak kami sangatlah berat, bagaimana tidak? Ini merupakan tugas yang sangat mulia, semua orang pasti sangat berharap pengibaran akan berjalan dengan lancar tanpa ada sedikit pun kesalahan. Setelah berdoa, perlahan tapi pasti kami menuruni tangga tribun menuju lapangan. Sebait doa mengiringi setiap langkah tegap kakiku. Semua mata peserta upacara dan tamu undangan tertuju pada kami...

 Wesss.... semue orang pade lihat kite boy!”, seru Tiara dengan suara pelannya kepadaku.

Aok..mantap pek, semue orang pasti mandang aku ni! Haha..”, seruku.

Palak die... pede sekali kau ni”, ujar Tiara.

Aok Aji ni.. pede sekali.. tak ade bah yang mandang kau..”, sambung Ana.

Ehh.. jangan salah ye... Gini-gini banyak yang nge-fans same aku”, balasku dengan percaya diri.

Ehh.. ribot kitak jak. Siap-siap lah.. Ridho udah maok nyiapkan barisan tu!”, seru Imam di depanku.

Aoklaaa..”, kataku.


Siiiiiiaaaaaapppp...... Gerak!!”, teriak Ridho Darmawan, komandan pasukan kami. Aku, Tiara, dan Ana yang semula ngoceh tak karuan kini diam seribu bahasa mendengar aba-aba dari Ridho, pertanda bahwa upacara akan segera dimulai. Aku berada di posisi pasukan pengiring, pasukan yang berada paling depan. Sebenarnya aku ingin menjadi penggerek tali bendera, namun apa daya postur tubuhku sepertinya kalah bersaing. Tapi tidak apalah, apapun dan dimanapun kita bertugas, harus dilaksanakan dengan baik serta sungguh-sungguh, itu prinsipku.

Langkah.....Tegapppp.... Maju.... Jalan!”, teriak Ridho lagi. Kami pun melangkah dengan sangat gagah. Tak kalah dengan Paskibraka Nasional yang sering kusaksikan di televisi. Langkah demi langkah membawa kami menuju tiang bendera yang tingginya 23 meter, lebih tinggi dari tiang bendera dimanapun. Bendera yang kami kibarkan pun lebih panjang dan lebar dari ukuran bendera merah putih pada umumnya.

Setelah membentuk formasi, tim pengibar memegang bendera serta talinya yang kemudian siap dikibarkan. Kemudian...

Satu...Dua... Tiga.. Bismillah...”, aku berhitung dan berdoa di dalam hati saat bendera akan dibentangkan.

Bendera.. Siap!”, teriak Kak Redha setelah membentangkan bendera lambang negara Indonesia, Merah Putih. Syukurlah bendera tersebut tidak terlipat seperti yang pernah terjadi pada saat kami latihan.

Kepada Sang Merah Putih... Hormatt....”,teriak pemimpin upacara.

 Hiduplah....Indonesia Raya...”, teriak dirigen.

Gerakk..!!”, sambung pemimpin upacara.


Feriyanto selaku penggerek menarik tali dengan sigap sembari mengikuti alunan lagu kebangsaan, Indonesia Raya...

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku...
 Disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku...
 Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku..
 Marilah kita berseru, Indonesia bersatu..

 Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku...
 Bangsaku, rakyatku, semuanya...
 Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya..
 Untuk Indonesia Raya..

 Indonesia Raya merdeka-merdeka..
 Tanahku, negeriku yang kucinta..
 Indonesia Raya merdeka-merdeka..
 Hiduplah Indonesia Raya..

 Indonesia Raya merdeka-merdeka..
 Tanahku, negeriku yang kucinta..
 Indonesia Raya merdeka-merdeka..
 Hiduplah Indonesia Raya..


Merinding seluruh tubuhku mendengar alunan lagu kebangsaan yang mengiri sang Merah Putih menuju puncak tertinggi tiang. Dan bendera pun sampai tepat saat lagu selesai dinyanyikan. Pengibaran sukses dilakukan! Alhamdulillah ya...

Dan alhamdulillah penurunan bendera juga sukses dilaksanakan pada sore harinya, meskipun banyak angin yang bertiup membuat bendera sulit untuk diraih Kak Redha yang melipat bendera.

Malam harinya, kami dijamu makan malam oleh Pak Sutarmidji, di pendopo Wali Kota. Seluruh tim pelatih, karyawan Dispora, anggota PPI Kalimantan Barat , dan orang tua kami turut menghadiri jamuan makan malam tersebut. Tak lupa kami, anggota Paskibraka Kota Tahun 2009 menghibur para hadirin disana dengan paduan suara serta tarian yang kami pelajari selama berada di diklat.

Keesokkan harinya, kami berangkat menuju Jakarta selama tiga hari dua malam untuk berlibur dengan menggunakan pesawat. Mungkin bisa dibilang semacam reward atau penghargaan yang diberikan pemerintah atas kesuksesan kami mengemban tugas yang diberikan. Selain itu kami juga mendapatkan uang saku, lumayan lho buat menambah isi dompet. Tapi ada satu hal yang membuat kami sangat sedih, yakni ketidak ikutsertaan tim pelatih dalam liburan kali ini. Para pelatih kami selalu ada di saat kami panas-panas latihan, bergurau, canda ria, sharing, makan, lari pagi, serta apel . Seperti ada sesuatu yang hilang bagi kami, karena selama ini kami selalu bersama-sama di saat suka maupun duka. Mereka adalah orang yang sangat berarti bagi kami.

Di Jakarta kami berlibur dan jalan-jalan ke Ancol  serta Tugu Monas. Tak lupa juga kami berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Sungguh pengalaman yang sangat menarik dan tak pernah terbayangkan sebelumnya!

            Tiga hari dua malam berlalu, saatnya kami kembali pulang ke kota Khatulistiwa. Tentunya kami sesama anggota Paskibraka Kota harus berpisah, karena tugas kami sudah selesai dan harus melanjutkan tugas utama yaitu belajar sekolah masing-masing. Perasaan campur aduk ketika harus melepas kebersamaan yang telah terukir selama berada di diklat.

            Ahh...sampai ketemu lagi boy..”, ucapku kepada Dodi, teman sekamarku.

            Aok boy.. Jage diri baek-baek boy, aku pasti kangen same kau ni. Tendang-tendang, gurau-gurau, tidok dan pelokkan same-same di kamar.. Haha..”, balas Dodi sambil menjabat tangan dan merangkul tubuhku.

             Sip lah.. Mane Syarif kawan kite sekamar satu agik tu?”, tanyaku.

            Woii.. Rip...! Siniklah kau..”, teriak Dodi kepada Syarif yang sedang berjalan menghampiri kami.

            Sampai jumpa ye kawan... Aku tadak bakal lupa same kitak.. “, Syarif merangkul tubuh aku dan Dodi.

            Mataku sudah berkaca-kaca seperti akan ada ”sesuatu” yang menetes, tapi berhasil ku tahan..

            Minta nomor hape kau Dod..”, pintaku ke Dodi.

            Nah... Catatlah... Kosong delapan...!” ucap Dodi seraya mengeja nomor HP-nya.

            Kosong delapan..” kataku mengikuti ucapan Dodi sambil mengetik nomor tersebut di HP-ku .

            Lima dua...!

Ya... Lima dua...

Satu.. Satu..!

Ya.. Satu- satu...

Jangan berebot...! Haha..”, gurau Dodi sambil tersenyum licik.

Haha... Kampret jak..”, ujarku dengan perasaan agak jengkel.

Begitulah Dodi, selalu melempar lelucon kepada diriku sehingga sering membuatku tertawa dan kadang jengkel juga. Namun hal itulah yang membuatku sedih, aku harus berpisah dengan Dodi serta teman-teman seperjuanganku yang lain. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu singkat waktu yang kami lalui bersama, namun kebersamaan itu akan selalu terkenang sampai batu nisan kan tertancap.

 Usai diklat, tugasku belum selesai. Aku harus berbagi ilmu dan pengalaman yang kudapat selama di diklat kepada para juniorku yang berada di sekolah, walaupun sebenarnya masih sedikit sekali ilmu yang kuperoleh mengenai PBB dan Paskibra. Namun, kelak aku yakin mereka pasti akan bisa jauh lebih baik dari diriku.

Menurut pandangan orang, orang bilang Paskibra tuh ekskul nya para cewek. Sibuk terus dengan kegiatan, sehingga lupa dengan kewajiban belajar. Tapi pandangan seperti itu salah, banyak juga kok anggota Paskibra yang bisa mengukir prestasi di akademik maupun non-akademik. Itu tergantung niat, kemauan dan pribadi kita masing-masing.

Aku merasa senang sekali bisa bergabung dengan Keluarga Besar Paskibra SMA Negeri 7 Pontianak. Senang, sedih , kecewa, sukar, sulit, canda, tawa, suka dan duka telah dirasakan. Kebersamaan yang erat serta rasa kekeluargaan yang terpatri di dalam jiwa masing-masing anggota membuatku betah berada disini. Di paskibra aku belajar banyak hal, yang tak dapat aku ungkapkan semua melalui tulisan ini. Kepemimpinan, kedisiplinan, sikap, kepribadian, fisik dan mental ku di didik disini. Tak pernah terpikir dalam benakku sebelumnya, aku yang SMP-nya dipandang sebelah mata oleh teman-temanku ini dapat memimpin sebuah angkatan, kelas dan sebuah organisasi intra sekolah. Meskipun aku menyadari bahwa semua itu terjadi hanya atas dasar sebuah keberuntungan atau faktor luck semata. Dengan sebuah mimpi kecil, diriku dapat terbawa kepada hal-hal besar dan tak terduga sebelumnya. Berawal keinginan kecilku ingin pergi ke Kota Singkawang, namun tidak cuma ke Singkawang, ternyata aku dapat pergi ke Jakarta dengan tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Mungkin untuk sebagian orang itu hal yang biasa, tapi bagiku tidak. Ini merupakan nikmat yang luar biasa. Aku sangat mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan.

Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena atas kehendak-Nya lah aku bisa berjalan bertahan menjalani kisah ini. Terima kasih aku berikan kepada kedua orang tuaku, Kak Marsihat, para senior di Paskibra dan Paskibraka, teman-teman seangkatan dan seperjuangan-ku, tim pelatih, serta orang-orang yang sudah membantu dan memberikanku motivasi selama ini, yang tak dapat ku sebutkan satu per satu.  

 Mungkin sebuah kisah panjang perjalanan ini tak akan aku dapatkan jika aku tidak bersekolah di SMA Negeri 7 Pontianak yang terkenal dengan sebutan Smunju ini. Aku tidak pernah menyesal bersekolah di Smunju. Terima kasih Smunju. Aku akan terus berjuang menggapai cita-citaku! Terima kasih Paskibra!
Ternyata seindah-indahnya rencana manusia, lebih indah rencana Allah ya...

”Kelak jika aku mempunyai keturunan nanti...
Akan ku ceritakan kepada mereka bahwa aku sangat merasa senang dan bangga pernah bersekolah di SMA Negeri 7 Pontianak..

Dan tentunya bangga menjadi seorang anggota Paskibra..

Semua berawal disini...

Satu kata delapan huruf...            ......PASKIBRA ”


-THE END-