Oleh:
Aji Caya Dhika
Awan mendung
menyelimuti langit pada pagi itu. Matahari
pun seperti enggan tuk menampakkan dirinya diatas sekolahku tercinta yaitu SMA Khatulistiwa
Pontianak. Kebetulan hari itu hari Sabtu, hari dimana kami siswa-siswi kelas
XII IPA 1 mengikuti pelajaran yang sangat digemari oleh siswa laki-laki yaitu olahraga.
Dan pada saat itu pula, jam pelajaran kami digabung menjadi satu bersama
kelas sebelah yakni kelas XII IPA 2.
”Teeeettttt...!!”, bel masuk berbunyi. Tanda jam pelajaran akan
segera dimulai.
”Pak, hari ini kita olahraga nye ngapain pak?”, tanyaku kepada Pak Jainal,
guru olahragaku yang berada di ruangannya. Kebetulan aku ini adalah ketua kelas
XII IPA1, jadi sudah menjadi tugas serta kewajibanku untuk menanyakan segala
hal yang berhubungan dengan pelajaran dan kelas.
”Hari ini kalian bebas mau ngapain, main bola voli kek, futsal kek atau
basket, itu terserah kalian. Asalkan nanti bolanya dikembalikan lagi ke dalam
ruangan bapak.”, pesan Pak Jainal terhadapku.
”Oke deh pak, sip lah pokoknye. Sekarang kau bantu aku bawakan semua bola futsal, voli dan basket ni ke
lapangan yan, budak dah nunggu ni..”, perintahku ke Herwan yang berada
disampingku.
”Aok la..”, sahut Herwan
”Permisi.
Makaseh pak, Assalamualaikum...”, ucapku.
”Waalaikum
salam..”, jawab Pak Jainal
Aku dan Herwan pun segera
membawa bola-bola tersebut ke lapangan. Ku giring bola futsal di sepanjang
selasar sekolah layaknya pemain sepak bola, Cristiano Ronaldo.
Meskipun dipersilakan bebas berolahraga apa saja,
seperti biasa kami harus melakukan pemanasan terlebih dahulu agar terhindar
dari cedera nantinya.
Aku pun segera memimpin pemanasan di depan teman-teman.
Sekitar 15 menit pemanasan berlalu, kami langsung
segera berolahraga. Kebanyakan siswa perempuan lebih memilih bermain bola
basket dan voli, tapi ada juga diantara mereka yang hanya duduk-duduk saja sembari
menyaksikan kami siswa laki-laki berolahraga.
Tiba-tiba saja terdengar suara yang tak asing lagi ditelingaku...
” Woii.. tanding futsal yokk kelas XI IPA1 lama lawan XI IPA 2 lama..Gimane?”,
ajak Ricky siswa kelas XI IPA 1 tahun lalu kepadaku.
”Bolehla...”,
sahutku.
”Tapi kite
taruhan ye.. Kelas yang kalah jamin nasi goreng! Sip..?”, tambah Ricky
dengan sombong.
”Alamak...
usah la boy, tak boleh taruhan pek, haram, kelas kamek ni mane pernah menang
lawan kelas kitak, maen biase jak bah”, ucap Tama, teman sekelasku waktu di
XI IPA 2.
”Aok la..
usah taruhan, kamek pasti kalah be..”, ucapku dengan merendah.
Oh ya, sebelumnya perkenalkan...
Saya, Ali Van
Houten, namaku sekilas mirip dengan nama orang Belanda. Aku memang
keturunan dari kakekku yang adalah orang
Belanda asli. Aku dulu menjabat sebagai ketua kelas XI IPA2 dan sekarang menjabat ketua kelas XII IPA 1. Mungkin aku memang
sudah ditakdirkan menjadi seorang ketua kelas dalam garis kehidupanku.
Selama bertanding futsal melawan kelas XI IPA1,
kelasku dulu yakni XI IPA 2 tidak pernah menang sama sekali! Bayangkan saja, kami
pernah kalah dengan skor 6-2 pada saat event
ulang tahun sekolah, salah satu pemain malah ada yang mencetak gol ke gawangnya
sendiri, sungguh na’as dan menyedihkan. Pada pertemuan terakhir, kami hampir
saja menang, tapi tetap saja harus menerima kenyataan pahit bahwa kami tidak pernah bisa menang. Padahal jumlah massa
kami lebih banyak lho daripada mereka.
Diejek maupun disindir bukan hal yang baru bagi kami .
Sungguh malu rasanya, tapi kami tetap saja tidak peduli, selalu ceria serta
menerima ejekkan mereka dengan lapang dada.
Wajar saja, kelasku ini tidak ada satupun atlit futsal seperti di kelas
mereka. Makanya selalu kalah.
” Gimane? Takot keh ape boy? Kalo sekirenye
tak bise taruhan nasi goreng, taruhan bakwan Mak Ade jak same the Es!”,
teriak Ricky dengan sombongnya sambil menendang bola futsal ke arah gawang.
“ Kelas
kitak nyaman, menang teros.. ada anak futsal agik!”, sahutku sambil
melempar bola basket ke dalam ring dengan kesalnya. Aku berusaha menghindar
saja dari ajakan Ricky.
”Aok, kite tanding cerdas cermat jak lah.. Mtk,
fisika, kimia, pkn.”,
balas Tama terhadap teriakkan Ricky seperti tidak terima. Kebetulan kelas kami bisa
dikatakan lebih baik dalam hal pelajaran daripada kelas mereka.
”Dahla..kalo gitu kite tanding Voli jak nah!”, teriak Sam, rekan Ricky.
”Sial.. sombong sekali mereke, mentang-mentang ada anak futsal dan voli,
menang teros lawan kelas kite, belom
bah..”, kesalku menggerutu di depan teman-temanku.
”Aok Li.. belom bah kenak kurma mereke tuh.”, tukas Herwan.
”Karma kalik Wan..”, sahutku membenarkan perkataan Herwan.
Kami pun tetap tidak mempedulikan ajakan Ricky
dkk. Aku bersama teman-teman XI IPA 2 pun bermain bola basket walaupun hanya
sekedar shooting-shooting saja ke
arah ring.
”Gimane Lek, jadi ndak ni?”, ajak Ricky sekali lagi.
Kadang di sekolah aku dipanggil telek, panjang
sekali sejarahnya kenapa bisa dipanggil seperti itu.
Mendengar ajakkan Ricky
tadi, membuatku berpikir sekali lagi untuk menerima ajakkannya. Aku dan
kawan-kawan XI IPA 2 pun berunding. Akhirnya kami sepakat untuk menerima
ajakkan tersebut. Mengingat hari itu adalah hari terakhir kami berolahraga di
SMA Khatulistiwa Pontianak karena minggu depannya kami sudah harus melaksanakan
ujian nasional. Lagipula, walaupun kami selalu kalah, kami masih punya harga
diri, apa salahnya toh mencoba peruntungan dan berharap mukjizat dari Tuhan.
”Oke.. Sipla.. Kite tanding.. Ape taruhannye?”, tanyaku kepada Ricky.
”Karne kitak ndak maok nasi goreng, kite taruhan teh es jak. Lima
kantong untuk sang pemenang,haha.. Gimane?”, jawab Ricky dengan sangat
sombong dan yakin bakal menang kembali.
”Hmmm.. bolehla.. Main
berape lamak?”, tanyaku lagi.
” Satu
jam jak, usah lama-lama.. Nanti kitak tak mampu pulak,haha.. Oke DEAL!”,
jawab Ricky sambil berjabat tangan denganku.
”Okelah...Deal..”, sahutku dengan perasaan galau.
Ricky pun memimpin
rekan-rekannya khalayak seorang kapten tim sebuah kesebelasan. Beranggotakan 5
kawan sekelasnya di XI IPA1 yakni Arie, Sam, Gunawan, Tio (kiper) serta pemain
cadangan, Oni. Perlu diketahui Arie dan Sam adalah atlit futsal SMA
Khatulistiwa yg sering membawa tim futsalnya memenangi beberapa kejuaraan di tingkat
kota maupun propinsi. Kami diuntungkan dengan absennya kiper andalan mereka, Danang
yang sedang asyik bermain komputer di perpustakaan.
Susunan pemain XI IPA1 : Ricky, Arie, Sam, Gunawan, dan Tio (kiper).
Sedangkan aku, dengan
perasaan galau memimpin pasukanku yang beranggotakan 6 kawan sekelasku, XI IPA2
yakni Tama, Herwan, Ezra, Dayat (kiper) beserta cadangan Asep dan Lana.
Susunan pemain XI IPA2 :Ali, Tama, Herwan, Ezra dan Dayat (kiper).
Waktu pertandingan dimulai dari Pukul 07.00-08.00
WIB. Sesuai kesepakatan sebelumnya, pertandingan hanya dilaksanakan selama satu
jam saja tanpa istirahat, dan siapa yang lebih banyak mencetak gol sampai waktunya
berakhir, mereka lah tim yang akan jadi pemenang. Pertandingan ini tidak
dipimpin oleh wasit, kami semua hanya menerapkan sistem fair play dan sportivitas yang dijunjung tinggi.
Siswi perempuan yang duduk di tepi
lapangan pun bersorak seraya mendukung kami.
“Ayo
, IPA 2..!!”, teriak Dhea, salah satu diantara siswi kelas XI IPA2 memimpin
siswi lainnya menyoraki kami.
Pertandingan pun segera dimulai...! XI IPA1 vs XI
IPA2..!
Bola diambil alih XI IPA1. Arie melakukan kick off dengan langsung menendang bola
ke arah gawang, tapi berhasil ditepis oleh penjaga gawang kami, Dayat sehingga
hanya menghasilkan sepak pojok saja. Arie mengambil alih lagi sepak pojok, bola
diumpan ke rekannya Sam. Dan XI IPA1 pun berhasil menguasai penuh jalannya
pertandingan. Kami seperti bermain kucing-kucingan dimana kami hanya mengejar
bola saja, namun tak pernah mendapatkan bolanya. Mereka seperti mempermainkan
kami.
Waktu berjalan sekitar 5
menit, tiba-tiba Sam memberi umpan kepada Arie, kemudian Arie menembak langsung
bola ke arah gawang dari tengah lapangan. Dayat yang berusaha menangkap bola
justru terhalang penglihatannya oleh hadangan Ezra, rekannya sendiri . Bola pun
melaju mulus ke dalam gawang kami.
1-0 , XI IPA1 memimpin.
”Ahh.. udahla. Belom-belom jak udah gol dah, kenak sayok lodeh la kite
ni..”, kata Ezra kepadaku
.
”Eh tadak... mane kite tau, waktu masih lama boy..”, sahutku.
Sekarang giliran kami
melakukan kick off, Tama mengoper
bola kepada Ezra yang berada di sisi kanan, lalu Ezra memberi umpan kepadaku
yang berada di sisi kiri. Aku pun menggiring bola, mencoba melakukan penetrasi
namun bola berhasil direbut oleh Gunawan. Serangan kami kandas!
Bola kembali dikuasai XI IPA1.
Gunawan dengan cepat menggiring bola menyusuri sisi kanan pertahanan kami,
dengan kuat dia memberikan umpan silang kepada Ricky yang sudah siap menerima
dengan sundulan kepalanya dan ”Bluuusssss.....” bola kembali masuk ke
gawang kami tanpa bisa dijangkau oleh Dayat.
XI IPA 1 menambah perolehan angka menjadi 2-0.
”Tangkaplah Yat bolanye..!! Bola gampang bah..”, teriakku dengan
kesal.
”Mane bise!
Kau jak lah yg jadi kipar.. Kitak pun tak ade yg turun jadi bek!”, sahut
Dayat.
“Eh
dahla.. kitak maju jak semue. Biar aku yang jadi Bek.”, teriakku kepada
Herwan, Tama dan Ezra.
Lagi dan lagi kami
melakukan kick off. Herwan melakukan
tendangan langsung ke gawang XI IPA 1, namun berhasil di halau oleh Tio, hanya
menghasilkan sepak pojok. Tama yang mengeksekusi sepak pojok tersebut, bola
melambung di atas udara. Herwan berusaha melakukan sundulan. Namun bola berhasil
ditangkap dengan mudah oleh Tio. Begitulah serangan kami, selalu kandas di
tengah jalan. Namun kami tetap tak patah arang.
Bola lagi-lagi dikuasai
oleh XI IPA 1, Tio menendang bola ke tengah lapangan. Dan Sam pun mendapatkan
bola, aku berusaha mengejar bola tersebut, namun Sam dengan cepat memberikan
umpan kepada Ricky yang tidak terkawal di sisi kiri pertahanan kami dan... ”Bluuuuussss...”, Ricky menendang bola
dengan sangat keras ke arah gawang yang tak mampu dijangkau oleh Dayat. Kembali
gawang kami harus kebobolan untuk ketiga kalinya.
XI IPA1 3-0 XI IPA2.
Kini hanya ada kata
”pasrah” dalam benakku. Mungkin benar apa yang dikatakan Ezra, bahwa kami
memang akan dijadikan seperti sayur lodeh oleh mereka. Tertinggal 3 gol dalam waktu
yang hanya tersisa kurang lebih 20 menit lagi.
Lantas, terdengar teriakkan yang membuat telingaku panas..
”Ali bawa sueh...!! make tak pernah menang!, bagos usah maen jak Li,
dahla malas aku nak nonton kitak maen.”, teriak Dhea sambil berlalu
meninggalkan tepi lapangan bersama siswi lainnya.
Mendengar teriakan Dhea, aku semakin merasakan keterpurukkan.
”Apakah benar yang dikatakan Dhea, selama ini kelas kalah gare-gare aku
bawa sueh, Aaaarghh tidak mungkin! Itu kan hanya pemikiran sesat dan mitos
belaka.”, pikirku sejenak dalam hati.
”Mustahil sekali bise menang! Bagos siapkan duet jak untuk belikan mereke
teh es di kantin dan siap-siap menerima ejekkan mereke nanti ..”, ucap Herwan
secara tiba-tiba.
Mendengar ucapan Herwan, hatiku
tergugah dan berkata..
”Masih ada
waktu 20 menit lagi budak.. apapun masih bisa terjadi, tak ade yang tak mungkin.
Kite masih punye harga diri pek, masih ade harapan. Yat, kau maju Yat..Aku jak
yang jadi kipar. Kite yakin jak
la..”, pintaku kepada Dayat.
”Okelah..
aku maju, jadi penyerang.”, jawab Dayat.
”Siplah..
Biarkan Ezra diganti Asep, Ezra pun udah letih, Asep jadi bek. Tama same Herwan
jadi gelandang.”, ucapku sambil mengatur taktik.
Kini aku berada di bawah
mistar gawang, menggantikan posisi Dayat menjadi seorang kiper. Asep di posisi bek.
Herwan dan Tama menempati pos gelandang serta Dayat menjadi penyerang tunggal.
”Semangat budak-budak..!! Tak ade yang tak bise..!!”, teriakku dari
bawah mistar gawang.
Herwan mengambil bola,
lalu meletakkannya di tengah lapangan. Bersiap-siap untuk melakukan kick off untuk yang ketiga kalinya. Bola
pun dioper ke arah Tama. Sementara itu, Dayat terlihat sibuk mencari ruang
gerak untuk melepaskan diri dari kawalan ketat bek XI IPA1, Sam. Tama mengoper
bola ke Herwan, Herwan lalu mencoba melakukan penetrasi dari sisi kanan
pertahanan XI IPA1 dan berhasil melewati hadangan Arie. Herwan lantas menyepak
bola sekuat tenaga.. ”Wuuuuusssssshhh.......Kelentang...!!”
sayang sekali bola masih mengenai mistar gawang. Tapi disana, sudah ada Dayat
yang terlepas dari penjagaan Sam dan bola pun berhasil di ceploskan ke gawang
dengan mudah.. Kiper Tio seperti sudah mati langkah.
”GOOOOOOOOL....!!”,
teriak Dayat sangat senang.
”Mantap Yat...!
Lanjutkan!”, sahutku.
Dayat berhasil memecah skor kebuntuan kelas kami, skor diperkecil menjadi
3-1.
”Jaga yang
benar lah Sam!”, ujar Reza kepada Sam.
”Aok la aku lengah sikit tadi, bise sampai kelepasan jage Dayat.”, ungkap
Sam.
Gunawan XI IPA1 mengambil bola untuk melakukan kick off, ditendangnya bola langsung ke arah gawangku. Namun dengan
sigap aku melompat dan menangkap bola tersebut.
”Maju Wan...!!” teriakku sambil melempar bola ke arah Herwan.
Kembali Herwan melakukan penetrasi, digiringnya
bola dengan gocekan samba khas miliknya. Hari itu dia seperti kerasukan setan
bola. Sam dan Gunawan yang berusaha menghadang pun berhasil dilewati dengan
mudahnya. Saat memasuki daerah kotak pinalti, kembali disepaknya bola dengan
sekuat tenaga. ”Wuuuuussshhhh.....!!”
bola melesat mulus ke gawang Tio tanpa berhasil dijangkau. Skor menjadi 3-2, kami
berhasil memperkecil angka.
Tio pun harus memungut bola dari gawang untuk kedua kalinya. Kali ini
giliran Arie yang mengambil alih kick off,
ditendangnya bola dengan kuat sekali. Aku melompat dan menepis bola tersebut,
ibarat kiper profesional aku seperti Edwin Van Der Sar, kiper Manchester United.
Bola pun gagal bersarang di gawangku.
”Aaaarrgghh... Siall...!!”, teriak Arie dengan nada kesal.
Bola kini dikuasai
Asep, Asep memberikan bola kepada Tama. Tama melakukan passing satu dua dengan Asep, lalu Tama mengoper bola kepada Herwan
yang berhasil meloloskan diri dari kawalan Sam. Herwan menendang bola dengan
kencang, Tio sepertinya sudah siap menangkap. Namun na’as, bola tersebut mengenai
kaki Ricky yang berdiri di depan gawang, bola pun berbelok arah masuk ke
gawang.
”Yeaahhh... Masuk..!!”, kata Herwan sambil melakukan selebrasi ala
Irfan Bachdim.
Sekarang skor berimbang, 3-3. Kami seperti
diselimuti keberuntungan pada hari itu. Namun semua kemungkinan masih bisa
terjadi di 10 menit yang tersisa.
Arie sepertinya sudah sangat kesal melihat Herwan
yang berhasil memporak-porandakan pertahanan timnya..
Pertandingan dilanjutkan, Arie menguasai bola sekarang. Sepertinya dia
tidak mau kalah dengan Herwan. Digiringnya bola tanpa mempedulikan Ricky yang meminta
diberi umpan. Namun, bola berhasil direbut Asep.
”Ape kau ni..?! Maen kasar!”, kata Arie dengan marahnya.
”Eittss.. masih kenak bola boy.”, jawab Asep.
Dengan cepat, bola diumpan lambung oleh Asep
langsung menuju ke depan, disana sudah ada Dayat yang siap menerima, tapi dia
harus berduel udara melawan Sam. Sam berhasil memenangi duel udara. Namun
dengan sigap Tama mengambil bola tersebut dengan kakinya, Gunawan berusaha
merebut. Tapi sayang, Tama sudah lebih dulu menyepak bola tersebut menggunakan
kaki kirinya. Bola menukik ke pojok kiri gawang dan tak dapat dijangkau kipar.
XI IPA1 3-4 XI IPA2. Kami berhasil membalikkan keadaan dan memimpin
skor. Seperti sebuah keajaiban saja.
“Ini momentum kebangkitan budak! kite buktikan same mereke kalo kite
bise ngalahkan mereke.”, kata Tama seraya tersenyum lebar.
Ricky mengambil bola dan melakukan kick off, bola diberikan kepada Sam. Sam
mencoba melakukan tendangan jarak jauh, namun masih melebar dari mulut gawang.
Ku sepak bola ke depan, disana sudah ada Dayat yang bersiap menyambut,
ditahannya bola menggunakan dada, bola pun memantul di lantai. Dia melakukan
tendangan voli akrobatik yang sangat diluar dugaan, bola meluncur menghujam
gawang Tio untuk kelima kalinya.
”Woooww... Fantastis..!!” ucapku dalam hati seraya terkagum-kagum.
Skor sementara menjadi 3-5, kelasku memperbesar kedudukan.
XI IPA1 berusaha mengejar ketertinggalan. Mereka
sangat kesal, ketika kami bisa membalikkan keadaan. Ricky pun diganti Oni,
karena sudah tidak mampu lagi bermain.
”Ngape kau keluar Rick?! Kate kau kuat kalo cuma maen satu jam jak”,
teriakku dengan nada sedikit meledek.
Ricky tak mampu berkata-kata lagi, dia hanya berbaring di tepi lapangan
saking letihnya.
Pertandingan masih berlanjut, sedangkan waktu
tersisa lebih kurang 5 menit lagi. Bola
dikuasai XI IPA1. Sam memberikan umpan lambung kepada Oni, Oni pun
berduel dengan Asep. Namun Oni lebih unggul postur badan, kalau diperhatikan
tingginya kurang lebih 190 cm. Dia berhasil menjangkau bola dan melakukan
sundulan dengan kepalanya, kali ini aku gagal menghalau bola karena bola begitu deras menghujam. Alhasil, gawangku pun
kebobolan.
Skor kembali kritis, XI IPA 1 4-5 XI IPA 2.
”Woii... Konsentrasi budak...!”, teriakku.
”Oke Mamenn...!!”, sahut Tama.
Pergantian pemain dilakukan lagi, Lana masuk
menggantikan Asep.
Kali ini Lana yang akan melakukan kick off.. Bola
diumpan kepada Herwan, lagi-lagi dia melakukan penetrasi, menusuk jantung
pertahanan XI IPA 1. Sam , Arie, dan Gunawan satu persatu berhasil dilewatinya.
Ibarat pemain bola, dia seperti Lionel Messi! Lincah serta liar.
Di giringnya bola sampai depan kotak pinalti, Herwan
menyepak bola dengan sangat kencang melalui kaki kanannya. ”Wusssshhhhhh........!!” Tapi sayang
masih dapat dihalau Tio. Namun tiba-tiba bola disambar Dayat yang tengah
berdiri bebas didepan mulut gawang.
”Bluuusss..” bola masuk ke gawang
XI IPA1, kawalan Tio. Gawangnya jebol untuk yang keenam kalinya.
Kami berhasil memimpin dengan skor 4-6.
Arie semakin memanas, ditendangnya bola dari tengah lapangan, namun
melenceng sampai ke kantor guru. Aku pun segera mengambil bola.
”Arie memang
seperti itu, kalau sudah dalam posisi tertinggal, emosinya pasti tak terkendali
sehingga tendangannya akan mengarah kemana-mana.”, kataku dalam hati.
Setelah aku mengambil bola dan menuju ke gawang.
Tiba-tiba....
”Li.. udah habis ni waktunye , jam delapan ni, kasi tau mereka lah.”,
kata Asep seraya menunjukkan jam tangannya kepadaku.
”Aok ye.. kasi taula.”, kataku.
”Eh kau lah yang kasi tau, kau kan ketua kelas.”, sahut Asep.
”Kampret jak, udah gini baru lah nunjuk-nunjuk ketue kelas.”,
gerutuku.
Arie sepertinya tahu apa yang aku dan Asep bicarakan. Dia sadar bahwa
waktunya sudah habis dan tim mereka kalah.
”Sam, Gun... dahla balek ke kelas, ape agik yang kitak tunggu”, ajak
Arie kepada kawannya dengan perasaan kesal. Wajahnya cemberut tak karuan
seperti orang kalah judi saja.
Mereka pun berlalu meninggalkan lapangan menuju kelas.
”YESS!!, akhirnye kite menang pek..!!Mukjizat ni..”, kataku kepada teman-teman.
”Alhamdulillah, Dewi Fortuna berpihak same kite.”, kata Tama
”Asli dah, tak nyangke aku kite bise menang, padahal kite ketinggalan
3-0 bah tadi.”, ujar Herwan.
”HAHAHAHA...Asli kite maen kayak di tipi-tipi, mereke sombong sih tau
pulak mereka balak, tapi kalah gak ujung-ujungnye same kite,anak mude kan
mengalah lok,haha..”, sahut Tama agak meledek.
”Laen kali boleh kite yang ngajak mereke taruhan boy, Nasi Goreng jak,
Teh es pun tak pape la.”, sambung Asep.
”NASI GORENG?? HHAHAHAHAHAHAHA....”, tawa kami terbahak-bahak.
”Ehh.. kate mereke kan yang menang dijamin teh es gratis 5 kantong, mane
die??”, tanya Lana.
”Boro-boro nasi goreng, teh es jak mreke tak mo bayar, udah ku duge dah tadi
sebelum tanding.”, sahut Ezra.
”Eee.. dahla boy, bise ngalahkan mereke yang sombongnye bukan-bukan jak
kite udah senang, ka’ati die lah pek- ka’ati dielah.. yang penting kite menang”,
ujarku.
”Kenak kurma bah mereka tuh!” kata Herwan
”Karma kalik Wan.” sahutku kembali membenarkan perkataan Herwan.
”KURMA?? HAHAHAHAHAHHA....”, tawa kami terbahak-bahak.
Setelah mengelap badan yang bermandikan keringat,
kami segera menuju ke kantin Mak Ade ingin cepat-cepat menghilangkan haus
dengan minum teh es disana. Terpancar senyum semangat dari wajahku, Herwan, Tama, Asep, Dayat, Ezra,
serta Lana selama di perjalanan. Di kantin pun, kami tak berhenti tertawa senang membahas kejadian-kejadian unik
selama pertandingan tadi.
Usai minum teh es, kami
bergegas menuju kelas...
”Eh, Arie ngamok tu kau maen kasar tadi..”, kata Tama kepada Asep.
”Aokk ye,
pasti die ngajak maen futsal agik ni pas pulang sekolah nanti.” kata Asep.
”Ehh.. bilang jak kite capek dah, tak bise maen.”, sahut Ezra.
”Aok , nanti
aku bilang aku tak bise ikot maen karne mo ngerjekan tugas, kite ngindar jakla.”,
kata Dayat.
”Asli.. tak nyaman dah liat muke die tadi,, ko jalan duluan di depan lah
Li masuk kelas, benar-benar tak nyaman wa..”, kata Herwan kepadaku.
”Hahaha... degel kite ni ye, kite yang menang bah kite
yang takot. Asli dah.. kurang baek ape bah kite ni kan, biase nye mereke ngolok-ngolok
kite, tapi sekarang kite menang malah kite yang takot. Cocok jadi orang baek
bah kite ni,haha..”, sahutku.
Memang lucu juga, walau kami menang namun ada
perasaan tidak nyaman pada saat ingin kembali ke kelas. Terutama kepada Arie
yang wajahnya sangat masam. Kami berpikir mereka akan mengajak bertanding lagi
sepulang sekolah nanti.
Sesampainya di kelas, hal
yang kami takutkan ternyata tidak terjadi. Kami lewat di depan Ricky dkk yang
duduk di lantai selasar kelas, namun mereka diam seribu bahasa. Sepertinya Ricky
dkk sudah sadar dengan kesombongan yang mereka perlihatkan.
Aku dan Tama duduk di dalam kelas, sementara kolega ku yang lain berada di
koperasi sekolah.
Tiba-tiba Sam menghampiri aku dan Tama...
”Nah Li.. lima ribu buat beli teh es.”, kata Sam sambil menyerahkan
uang seribuan sebanyak lima lembar.
”Ehh.. ape ni Sam, udahla.. usah bah.. aku dengan budak-budak udah minum
dah tadi di kantin”, kataku sambil tersenyum.
”Ehh.. ambe jak.”, kata Sam.
”Udahla,, kalo ko memaksa,aku ambek.. hoho.. makaseh Sam bilang budak.”,
ujarku.
Sam pun berlalu meninggalkan kami berdua...
”Masih sportif juga mereke, ko simpan jak Tam duetnye, untuk kapan-kapan
kite maen futsal same budak-budak nanti abes ujian.”, perintahku.
”Aokla..”, sahut Tama.
Lalu aku membuka baju olahragaku dan hanya tersisa kaos dalam saja yang
membalut tubuh kurusku. Ku rebahkan badan yang lelah ini di sandaran kursi. Ku
pejamkan mata sejenak seraya merenung dan berkata dalam hati kecilku...
”Inilah kuasa Tuhan... Tuhan sangat tidak
senang dan benci kepada orang-orang yang sombong, memandang sesuatu dengan
sebelah mata saja. Tuhan pasti akan menjauhinya..
Namun Tuhan sangat senang
kepada orang-orang yang rendah hati, semangat, mau berusaha, tidak pantang
menyerah, berdoa dan pasrah serta yakin dengan pencipta-Nya..Tuhan pasti akan
slalu bersama mereka dan selalu memberi jalan.
Kan ku jadikan ini pelajaran
berharga untuk kedepannya nanti..
Huuffhh.... Seperti sebuah
keajaiban saja..
Maafkan aku ya Tuhan, tlah menerima
ajakkan taruhan mereka...
Namanya juga budak-budak. Haha..”
-THE
END-

keren ji...bru q baca...fllow blog aq lah
BalasHapusaku masih belum ngerti care follownye.. haha
BalasHapusfollow aku lah....
BalasHapus