“Biarkan aku menjadi polisi, Bu!”, teriak Dhika kepada Ibunya yang sedang
duduk di sofa.
“Jangan Nak, jadi polisi itu berat..”, kata Bu Minah seraya
menasehati buah hatinya tersebut. ”Lagipula
kan kamu sudah diterima kuliah di Universitas Negeri melalui jalur PMDK mu.”
“Tidak Bu, walaupun sudah diterima disana, aku pengen jadi polisi!”.
“Ibu tidak akan pernah menyetujui! Ibu tidak ingin kamu seperti ayahmu!”,
tukas Bu Minah dengan tegas.
Ayah Dhika memang seorang purnawirawan polisi
bernama Sutrisno. Sedangkan Ibunya bernama Minah. Sudah kurang lebih sepuluh
tahun Alm. Pak Sutrisno meninggalkan Dhika dan Ibunya pergi menghadap sang Illahi.
Beliau tewas dikarenakan tertembak peluru pada saat berusaha menyelamatkan
seorang wanita dari sergapan kawanan perampok. Karena tidak sedang dalam
keadaan bertugas, beliau tidak membawa senjata. Namun beliau nekat untuk
menolong wanita tersebut, sudah menjadi tugas dan kewajibannya sebagai anggota
kepolisian melindungi masyarakat dalam situasi apapun.
Cerita
itulah yang sering Dhika dengar dari Ibunya. Selain dari Ibunya, Dhika juga
sering mendengar kisah-kisah hebat Ayahnya pada saat bertugas dari rekan-rekan
seperjuangan Ayahnya dulu.
“Nanti kalau sudah lulus SMA, gantikan Ayahmu jadi polisi ya nak”,
kata rekan seperjuangan Alm.Pak Sutrisno bernama Pak Sarto.
“Insya Allah ya Om. Saya juga pengen banget menjadi seperti Ayah,
menggunakan seragam dengan polisi yang sangat gagah!”, balas Dhika dengan
tatapan mata yang berbinar.
“Tidak usah Om Sarto, biarkan saja Dhika jadi Insinyur seperti kakeknya,
kan keren tuh!”, sahut Bu Minah memotong pembicaraan mereka.
“Uuuhh.. Ibu!”, gerutu Dhika.
Pernah
suatu hari, ketika Dhika masih berusia sepuluh tahun. Dia bersama Ibunya sedang
berbelanja di Pasar Mawar untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dia melihat ada
sebuah toko yang menjual beraneka ragam pakaian dan mainan anak-anak, seperti
robot, boneka, mobil-mobilan, bola dan pistol-pistolan.
“Ibu, belikan aku pistol mainan itu!”, pinta Dhika kepada Ibunya
sambil menunjuk ke arah pistol mainan yang terletak di dalam lemari kaca.
Bu Minah sepertinya menuruti
keinginan Dhika, mereka pun melenggang masuk ke dalam toko. Toko tersebut
bernama Istana Mainan.
“Ibu cari apa ibu.. celana kah, baju kah, sepatu kah, mainan kah?”,
tanya kakak penjaga yang berdiri tepat disamping pistol mainan yang Dhika
inginkan.
“Saya mau beli mainan buat anak saya ni”, jawab Bu Minah dengan
senyuman seadanya.
“Mainan apa bu?”, tanya kakak itu lagi.
“Bola kaki itu aja..”, jawab Bu Minah seraya menunjuk ke arah mainan
bola kaki.
“Lho kok bola kaki bu!”, sahut Dhika. “Bukan bola kaki, tapi
pistol!”
“Sudah.. bola kaki saja, bolanya bagus lho. Nanti bisa kamu pakai
bermain sama temen-temen kamu di lapangan”, balas Ibu Minah.
“Gak mau! Aku maunya pistol itu!
Pokoknya aku mau pistol-pistolan!”, rengek Dhika sambil menangis.
Bercucuran air mata Dhika membasahi pipi tembemnya.
“Ya udah kalau kamu gak mau! Ibu nggak akan mau membelikan kamu
pistol-pistolan!”, tukas Bu Minah dengan rasa jengkel sembari mencubit
lengan kirinya sehingga menimbulkan bekas. Bekas tersebut berwarna biru dan tak
dapat hilang sampai sekarang. Dhika menangis kesakitan. Akhirnya, mereka pun keluar
dari toko tanpa membeli satu barang pun.
Begitulah
Bu Minah, selalu saja menghindari Dhika dari kata, alat, mainan atau segala
sesuatu yang berhubungan dengan Polisi. Dhika tahu betul perasaan Ibunya,
Ibunya pasti merasa trauma jika harus kehilangan seseorang yang beliau cintai
untuk kedua kalinya. Bu Minah takut Dhika mengikuti jejak Ayahnya menjadi
seorang polisi dan ikut meninggalkan dirinya.
Lanjut
kisah....
Dhika
adalah seorang siswa kelas XII di salah satu sekolah negeri ternama di kotanya.
Dia telah menyelesaikan Ujian Nasional dan sekarang hanya tinggal menunggu
pengumuman kelulusan. Dan alhamdulillah, pada saat pengumuman dibacakan,
ternyata seluruh siswa sekolahnya lulus 100%. Sudah tentu setiap siswa akan
bertanya pada dirinya sendiri, “Kemanakah aku setelah lulus SMA ?”...
“Ka...Kamu mau lanjut kuliah dimana ni?”,
tanya Tiwi sambil menepuk pundak Dhika. Tiwi adalah teman sekelasnya.
“Belum tahu ni Wi, aku aja masih bingung”,
jawab Dhika.
“Lho...Bukannya kamu sudah keterima di
Fakultas Teknik Universitas Tanjungria melalui jalur PMDK-mu?”, ujar Tiwi. Di
sekolah, Dhika tergolong siswa yang cukup pintar. Selain pintar, dia juga aktif
di organisasi dan pernah menjabat sebagai ketua OSIS selama dua periode.
Sehingga wajar-wajar saja dia bisa masuk Universitas melalui jalur PMDK.
“Iya sih Wi.. Tapi itu hanya coba-coba aja
kok, lagipula itu pilihan Ibuku yang pengen aku jadi insinyur. Aku nggak
terlalu senang dengan pelajaran yang berhubungan dengan rumus dan hitung
menghitung”, kata Dhika menjelaskan.
“Ohh begitu...Tapi sayang donk kalo kamu
nggak jadi kuliah disitu, sulit lho masuk dii Fakultas Teknik. Banyak orang
yang pengen kuliah disitu. Jadi kamu lanjut kemana lah Ka..?”
“Aku pengen jadi polisi, Wi... Menggantikan
Ayahku”, jawab Dhika dengan suara yang penuh wibawa.
“Ohh. Jadi polisi toh..Tapi bukannya Ibu kamu
melarang?”
“Memang..Tapi mau gimana lagi. Itu kan
cita-citaku sejak kecil. Semenjak Ayahku meninggal, aku sering mendengar
kisah-kisah menganggumkan beliau saat menjadi polisi. Jiwaku terpanggil untuk
meneruskan perjuangannya”, ujar Dhika.
“Ciee... Jadi Ompol deh.. Sukses Ya Ka..!”
“Makasih Wi...Ngomong-ngomong, kamu sendiri
lanjut kuliah dimana?”
“Aku pengen lanjut kuliah di Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia”, kata Tiwi.
“Wesss.... Mantap. Jadi Bu Dokter donk!”
“Hehe.. Iya nih”, balas Tiwi.
Hati Dhika semakin mantap untuk
meneruskan perjuangan Ayahnya. Dilengkapinya segala administrasi pendaftaran
peserta untuk mengikuti seleksi. Dia lepas PMDK-nya demi meraih cita-citanya
menjadi seorang polisi, meskipun dirinya tahu bahwa belum tentu dia akan lulus.
Itulah Dhika, tekadnya begitu kuat. Segala risiko siap dihadapinya jika dia
gagal nanti.
“Kamu yakin nak dengan keputusanmu ini untuk tidak kuliah?”, tanya
Bu Minah dengan lirih.
“Iya bu..Aku siap menganggur dulu setahun, jika tidak lulus tahun ini
dan akan kucoba tahun depan”, jawab Dhika.
“Ibu tidak setuju dengan keinginan kamu nak, Ibu tidak ingin kamu
meninggalkan seperti Ayahmu!”, seru Ibu. Terlihat sepasang bola mata Bu
Minah mengeluarkan air mata, menuruni pipi kanan dan pipi kirinya.
“Tenang Bu...Aku ini sudah besar, aku tahu mana yang terbaik buat aku.
Biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri Bu...”, ujar Dhika berusaha
meyakinkan Ibunya.
Bu Minah diam seribu bahasa. Tampaknya Bu Minah merasa
kecewa mendengar perkataan Dhika barusan. Lalu, beliau berlalu pergi meninggalkan
Dhika menuju ke dapur.Sementara Dhika tetap pada pendiriannya. Dilangkahkan
kakinya menuju ke kamar untuk mengambil sepatu olahraga. Tak lupa ia kenakan
celana training kesayangannya. Sambil mendengarkan musik melalui I-Pod,
diayunkan kakinya untuk memulai jogging di sore itu dengan berkeliling di
sekitaran gang. Demi menjaga staminanya agar tetap bugar pada saat tes nanti.
“Olahraga kah Ka?”, tanya tetangga sebelah rumah Dhika, bernama Pak
Marno.
“Iya ni Pak..Jogging kecil-kecilan ni”, jawabku.
Selain jogging, tak lupa Dhika
menyempatkan diri untuk berlatih sit-up, push-up, pull up, renang dan shuttle
run. Wawasan akademik pun coba dia kuasai. Begitulah rutinitas yang dia lakukan
setiap hari hingga pada akhirnya waktu seleksi pun tiba. Segala tahapan seleksi
berhasil dia ikuti dengan semangat pantang menyerah. Alhasil, dirinya pun lulus
dengan peringkat yang memuaskan. Tinggal menunggu waktu keberangkatannya saja
menuju ke asrama. Disana, Dhika dan rombongan akan bergabung dengan kontingen
dari provinsi lain seluruh Indonesia. Tentunya mereka akan dibina dan dididik
selama kurang lebih satu tahun lamanya.
Sesaat setelah berkemas
perlengkapan yang harus dibawa. Dhika meminta restu Bu Minah untuk yang
terakhir kalinya sebelum pergi. Rasa sedih menyelimuti perasaan Dhika di kala
itu.
“Bu... Aku minta izin pergi. Doain aku ya..”, tutur Dhika. “Aku pasti
sangat merindukan Ibu..”
Bu Minah hanya terdiam tanpa
kata. Sejenak suasana menjadi hening. Hanya ada Paman Rudi yang duduk di kursi
ruang tamu. Tiba-tiba Paman Rudi beranjak dari kursinya.
“Sudahla Minah...Dhika ini sudah besar, biarkan dia memilih jalan
hidupnya sendiri. Biarkan Dhika meraih cita-citanya”, ujar Paman Rudi seraya memegang bahu Bu Minah.
Bu Minah masih terdiam.
Pandangan matanya terlihat kosong. Raut wajahnya tampak lusuh tak beraturan,
menandakan bahwa dia sangat merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Berat
rasanya untuk membiarkan putra semata wayangnya pergi dalam jangka waktu yang
cukup lama.
Namun tak berapa
lama berselang, Bu Minah akhirnya mau membuka mulut.
“Iya.. Ibu mengizinkan kamu Nak.. Belajarlah dengan giat disana. Ibu
pasti sangat merindukanmu!”
Berlinanglah
air mata Bu Minah membasahi pipinya...
“Iya Bu! Aku pasti juga sangat merindukan
Ibu! Aku janji akan belajar dengan giat disana”, ucap Dhika seraya memeluk
erat tubuh Ibunya. Dhika pun tak dapat lagi menahan kesedihan yang ia rasakan.
Dhika menangis tersedu.
“Sebentar lagi, akan ada seorang
polisi bernama Bripda Andhika Pangestu!”, tambahnya lagi.
“Amin.. Semoga saja. Ibu akan mendoakan kamu
disini. Kamu hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik disana”, pesan Bu Minah.
“Siap Bu! Pasti aku akan jaga diri baik-baik.
Ibu tenang saja.”
“Cepatlah pulang, Ibu selalu meninggumu
disini”, pesan Bu Minah untuk yang terakhir kalinya kepada Dhika.
“Sudah.. Sudah.. Sudah jam berapa ini? Ayo berangkat, nanti telat lho”,
kata Paman Rudi memotong pembicaraan mereka.
“Ya sudah.. Aku berangkat dulu ya Bu. Assalamualaikum...”, ucap
Dhika sambil bersalaman mencium tangan Ibunya.
“Waalaikum salam”, jawab Bu Minah.
Begitulah percakapan terakhir
antara Dhika dan Bu Minah. Seiring berjalannya waktu, Dhika telah resmi
dilantik menjadi anggota Polri dan bertugas di satuan Bareskrim selama satu
tahun. Begitu senang hati Bu Minah mendengar anaknya sudah resmi dilantik.
Meskipun harus rela menunggu kepulangan anaknya setahun lagi.
Dan satu tahun itu berlalu dengan
penantian panjang Bu Minah. Menunggu kepulangan anak kesayangannya kembali ke
rumah. Hari kepulangannya pun tiba. Segala persiapan untuk menyambut kepulangan
Dhika telah dilakukan, termasuk mengadakan acara jamuan makan-makan di rumah Bu
Minah. Seluruh keluarga, rekan kerja Bu Minah dan Alm. Pak Sutrisno, serta tak
lupa teman-teman Dhika pun diundang dalam acara tersebut. Acara yang diadakan terbilang
cukup mewah. Maklum, Bu Minah adalah salah seorang pegawai BUMN yang gajinya
lumayan besar.
“Jam berapa Dhika sampai di rumah tante?”, tanya Tiwi yang sekarang
sudah menjadi dokter.
“Iya ni tante, sudah nggak sabaran pengen liat Dhika..Kangen ni..!”,
sambung Toni, yang merupakan sahabat dekat Dhika sejak SD.
“Hmmm.... Mungkin bentar lagi ni”, ujar Bu Minah.
Tidak hanya Tiwi dan Toni.
Seluruh hadirin undangan yang berada disana juga berharap Dhika segera datang.
Tanpa terkecuali Bu Minah, yang sudah tidak sabar pastinya ingin melepas rindu
dengan putra tercintanya.
Tiba-tiba ponsel Bu Minah
berdering....
“Hallo.. Assalamualaikum”, kata Bu Minah memulai percakapan di
telepon.
“Waalaikum salam bu”
Suara tersebut terasa tidak asing
lagi di ditelinga Bu Minah. Ternyata yang menelepon Bu Minah adalah Dhika.
“Dhika! Dimana kamu? Kok belum nyampe nyampe di rumah sih. Ibu dan yang
lain sudah nungguin kamu ni!”
“Wahh... Ibu nggak sabaran nih. Aku pasti pulang kok. Memangnya ramai sekali
ya Bu yang nungguin aku?” tanya Dhika.
“Iya nih... Ibu udah ngadain acara makan-makan besar dengan seluruh keluarga. Ibu juga udah ngundang
temen-temen kamu. Mereka nggak sabaran tuh pengen liat kamu”
“Lho... Kok Ibu pake acara ngadain makan-makan segala sih”, protes
Dhika.
“Gapapa donk ya.. Kan sekali-kali”, ujar Bu Minah.
“Behhh... Oh ya, sebelumnya aku mau minta izin sama Ibu. Boleh nggak?”
“Boleh kok, apa sih yang nggak buat kamu ni..”, gombal Bu Minah.
“Begini Bu... Aku boleh bawa temen ku nggak ke rumah?”
“Ohh...Tentu saja boleh. Temen kamu polisi juga?”
“Iya Bu... Dia anak yatim piatu, nggak punya saudara juga. Jadi aku
pengen ngajak dia main ke rumah kita.”,
ujar Dhika.
“Ohh.. Ajak saja dia ke rumah. Gapapa kok, ramai-ramai kan jadi tambah
seru!”, sahut Bu Minah.
“Tapi.....”
“Tapi apa..?” tanya Bu Minah dengan penasaran.
“Tapi....Temen saya ini cacat Bu. Tangan kanannya patah akibat jatuh.
Wajahnya terlihat hancur tak beraturan akibat jahitan operasi. Yang lebih
parahnya lagi, kakinya lumpuh akibat tembakan peluru saat mengejar kawanan
penjahat. Dia sudah tidak dapat berjalan lagi dan harus menggunakan kursi roda.
Pokoknya keadaan dia sangat mengenaskan”, tutur Dhika menjelaskan. “Gimana
Bu... Apa boleh dia tetap main ke rumah? Nggak mengganggu tamu-tamu yang lain
kan?”
Bu Minah sejenak diam setelah
mendengar penuturan dari anaknya. Dirinya mulai berpikir, jika Dhika jadi
membawa temannya itu ke rumah, pasti para tamu undangan merasa terganggu dan
selera makan mereka hilang melihat keadaan teman Dhika yang menggenaskan itu.
“Ini kan acara buat menyambut anak saya, bukan menyambut temannya yang
cacat itu!”, Bu Minah bergumam dalam hati.
Lantas Bu Minah melanjutkan
pembicaraan....
“Begini saja nak, lebih baik kamu titipkan saja temanmu itu di rumah
temanmu yang lain di dekat sini. Nanti kalau acara kita sudah selesai dan tamu
sudah pada bubar, baru kamu bawa ajak dia ke rumah...”
“Tapi masalahnya, sekarang kami sudah ada di depan rumah Bu...”
“Lho.. Kok kamu nggak bilang daritadi sih!”, tukas Bu Minah sembari
tersenyum setelah mendengar bahwa anaknya sudah berada di depan rumah.
Segera Bu Minah menutup telepon
dan berlari ke pintu depan. Tak peduli dengan keadaan sekelilingnya. Berharap
dapat segera melepas rindu dengan putra semata wayangnya itu. Dan ketika Bu
Minah membuka pintu lebar-lebar, di hadapannya terdapat seorang pemuda yang
berusia kira-kira sama dengan putranya. Tergolek lemah di atas sebuah kursi
roda yang berada di halaman rumah. Tangan kanannya patah, dapat dilihat dari
perban yang melilit di tangannya. Wajahnya terlihat sangat lusuh sehingga sulit
dikenal...
“Kamu teman Dhika? Mana anak saya? Mana Dhika?”, tanya Bu Minah
kepada pemuda tersebut.
“Anak Ibu ada di hadapan Ibu...”, jawab pemuda tersebut.
“Mana...? Tidak ada..! Kamu jangan main-main ya dengan saya!”, ujar
Bu Minah dengan rasa jengkel.
“Saya Dhika Bu... Anak Ibu...”, kata pemuda tersebut.
“Kamu Dhika...?!! Tidak mungkin!”, bantah Bu Minah dengan rasa tidak
percaya.
“Iya Bu... Saya Dhika. Silakan Ibu perhatikan dan lihat baik-baik tanda
biru di lengan kiri saya ini”, ujar Dhika sambil memperlihatkan lengan
kirinya kepada Bu Minah.
Segera Bu Minah melihat lengan
kiri pemuda tersebut. Alangkah terkejutnya Bu Minah saat dia melihat lengan kiri pemuda tersebut, terdapat sebuah bekas berwarna biru,
mengingatkan dia tentang kejadian beberapa tahun silam saat dirinya mencubit
Dhika sehingga menimbulkan bekas berwarna biru yang tak dapat hilang. Bu Minah
pun tersadar...
“Dhika... Kamu Dhika...!!”, teriak Bu Minah sambil menangis memeluk
putra yang selalu dinantikannya pulang.
“Iya... Aku Dhika... Anak Ibu!! Kenapa? Kenapa Ibu jahat menyuruhku
untuk berada di rumah teman saja, tidak boleh ke rumah. Apa Ibu malu sama orang
lain dengan keadaanku yang seperti ini?!” teriak Dhika. Bercucuran air mata
Dhika membasahi pipinya.
“Tidak Nak.. Tidak..!. Maafkan
Ibu Nak... Maafkan Ibu....!!”, teriak Bu Minah seraya meraung.
Isak tangis dan haru mewarnai
kepulangan Dhika. Awan mulai berubah menjadi mendung disertai kilat.Dan langit pun
turut menangis tak dapat lagi menahan
kesedihannya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar